slide 1 title

Pertambangan timah daerah Pemali, dengan tipe greisen dan batuan pembawa granit. .

slide 2 title

Strukutur daerah pemali yang terdapat pada batuan filit. merupakan aerole pada daerah tersebut.

slide 3 title

Sayatan tipis (thin section) granite pembawa mineral greisen penghasil bijih timah (sn) pada daerah pemali berumur trias-yura. mineral yang terlihat kuarsa, muskovit.

slide 4 title

Sayatan tipis (thin section) granite pembawa mineral greisen penghsil bijih timah (sn) pada lokasi yang berbeda, menunjukan mineral kuarsa.

slide 5 title

Struktur pada daerah pemali. urat kaoline yang memotong urang tourmaline (?).

Senin, 05 November 2012

Tentang Sequence Stratigrafi

Ane mau nge-share tentang sequence stratigrafi, ane ambil dari bukunya Mas Sam Bogg, Jr. Moga bermanfaat.

Sequence stratigrafi didasarkan pada pemikiran bahwa suksesi (rangkaian) sedimen dapat dibagi menjadi unit (sequence) yang dibatasi oleh ketidakselarasan (unconformity) yang terbentuk selama perubahan siklus muka air laut. Sequence dapat dibagi menjadi unit yang lebih kecil yang secara genetic terhubung dengan pembentukan dari tahapan yang berbeda siklus muka air laut pada daerah tertentu. Kumpulan 3 dimensi dari lithofasies dengan keterdapatan batas sequence mengacu sebagai sistem pengendapan (depositional system). Depositional system dibangun oleh unit statigradi yang lebih kecil: system tract dan parasequence ( yang disusun oleh rangkaian parasequence). Sequence stratigrafi akan menjadi acuan dalam chronostratigrafi yang akan menunjukan pembentukan batuan yang berhubungan dengan accommodation space.
Accommodation space merupakan ruang yang tersedia pada suatu waktu dimana sedimen dapat terakumulasi (Jervey,1988). Pada dasarnya, merupakan ruang antara permukaan equilibrium (muka air laut) yang memisahkan batas erosional (bagian atas) dengan batas pengendapan (bagian bawah) dimana sedimen dapat terakumulasi. Accommodation space pada lingkungan laut dikontrol oleh eustasy (penurunan dan kenaikan muka air laut( dan tektonik (subsidence/uplift). Jumlah dari accomodasi dan kecepatan suplai sedien dikontrol oleh kedalam air dan juga transgresi dan regresi (emery and Meyers, 1996). Jika sedimen bertambah ketika accommodation space masih konstan atau suplai sedimen lebih besar dibandingkan dengan tingkat kenaikan relative muka air laut, kedalam air akan turun (fasies pada daerah regresi). Jika suplai sedimen lebih kecil dari tingkat kenaikan muka air laut, kedalam air akan meningkat (faseis pada daerah transgresi). Jika supai sedimen yang sangat banyak mengisi suatu ruang akomodasi hingga ke batas tertinggi, penurunan muka air laut secara global (eustasy) atau pengangkatan dari lantai samudra yang dapat menyebabkan sedimen tersebut tererosi (tersingkap).

Bagian penting dari sequence stratigrafi
1. Parasequence dan rangkaian parasequence
Parasequence merupakan fasies terkecil dari sekuen pengendapan dan memiliki ketebalan berkisar antara 10 hingga 100 m. parasequence merupakan rangkaian kecil dari lapisan atau rangkaian lapisan yang dibatasi oleh flooding surface, yang merupakan permukaan yang memisahkan lapisan muda dari lapisan yang lebih tua. Flooding surface pada umumnya terbentuk di lingkungan transisi dimana tingkat kenaikan ruang akomodasi lebih kecil dibandingkan dengan suplai sedimen. Pada kondisi tersebut, sedimen yang masuk ke laut akan mengisi daerah pantai terlebih dahulu, kemudian akan berpindah kearah laut (prograding) hinga kedaerah distal. Hasilnya akan shallowing-upward dan pada umumnya coarsening-upward. Jika tahapan ini diikuti oleh kenaikan ruang akomodasi, transgresi akan mengontrol kondisi ini.
Kemudian, penurunan ruang akomodasi yang diperlihatkan oleh situasi eustasi (penurunan muka air laut) atau terjadi peningkatan suplai sedimen dapat menunjukkan pengendapan dari parasequence yang baru. Penumpukan secara vertical dari parasequence menunjukkan variasi dari perubahan relative muka air laut yang memebntuk rangkaian parasequence. Pada kondisi ini, setiap perubahan parasequence akan menuju kea rah laut membentuk progradational parasequence set. Pada kondisi yang berbeda dimana muka air laut relative naik dan turun, parasequence mungkin akan menuju kea rah daratan dan membentuk retrogradational parasequence set atau secara vertical membentuk aggradational parasequence set (Coe and Chruch, 2003).
2. system tract
System tract merupakan subdivisi dari sistem pengendapan. 4 jenis dari system tract yang dikontrol oleh muka air laut adalah
Highstand system tract (sedimen diendapkan selama muka air laut tinggi). Sistem ini terbentuk selama fase terakhir dari kenaikan muka air laut, dan terhenti pada kondisi terebut atau selama fase awal dari penurunan muka air laut. Sistem ini terbentuk pada kondisi dimana kondisi progradasi menjadi aggradasi. High system tract ditentukan oleh ketidakselarasan (unconformity yang dihasilkan oleh penerunan muka air laut pada kondisi eustasi setelahnya).
Falling-stage system tract sebagai awal dari lowstand syste tracts yang dibentuk dari penurunan muka air laut dari posisi highstand. Penurunan muka air laut berhubungan, baik terhadap tingakt penurunan muka air laut yang melebihi kecepatan subsidence dari tektonik atau tingkat kenaikan muka air laut lebih kecil dibandingkan tingkat pengangkatan tektonik yang membawa ke kondisi yang dikenal sebagai force regression. Selama force regression, ruang akomodasi berkurang sejauh garis pantai yang berpindah kea rah laut (prograde) dan pengendapan juga berpindah ke posisi yang lebih rendah. Hasilnya, endapan coastal tidak diendapkan pada posisi awalnya tetapi akan melewati zona pengendapan dan membentuk permukaan ketidakselarasan (unconformity surface). Kemudian Erosi sedimen pada daerah pantai oleh fluvial akan menyebabkan penggerusan melewati daerah pantai dan diendapkan lagi kearah mendekati laut. Pengendapan pada falling-stage system tract meliputi endapan laut dangkal, endapan offshore-marine, dan endapan kipas laut (submarine-fan sediments).

Lowstand system tracts, mulai terbentuk setelah muka air laut relative turun hingga batas minimunnya dan mulai untuk naik sehingga menghasilkan ruang akomodasi yang kecil. Endapan terdiri dari rangkaian parasewuence dari progradational hingga aggradaional yang terdiri dari alluvial dan endapan pantai, endapan laut dangkal, , endapan offshore-marine, dan endapan kipas laut (submarine-fan sediments).

Kenaikan muka air laut yang menerus menghasilkan kondisi dimana tingkat ruang akoodasi lebih besar dibandingkan dengan supali sedimen yang dihasilkan pada kondisi transgresi. Daerah pengendapan dari perubahan pengendapan kearah daratan menghasilkan parasequence retrogradasional. Transgressive surface akan ditandai oleh endapan laut yang lebihbanyak dibandinkan dengan endapan nonmarine. Sedimen diendapkan pada kondisi tersebut menghasilkan transgressive system tract. Transgressive system tract akan terdiri dari alluvial dan endapan pantai, endapan laut dangkal, , endapan offshore-marine, tetapi tidak termasuk endapan kipas laut (submarine-fan sediments). Ketika muka air laut mencapai titik maksimum, tingkat sedimentasi akan melebihi kecepatan kenaikan muka air laut dan aggradasi menjadi  progradasi lebih dominan akan menghasilkan kondisi highstand system tract yang baru.

Rabu, 04 Juli 2012

Akumulasi dan trap petroleum

Sekarang jatahnya akumulasi dan trap petroleum. Ini adalah salah satu komponen penentu bisa tidaknya petroleum itu dieksploitasi. Ibarat kata, akumulasi itu kayak duit receh, trap itu kayak dompet. makin banyak duit receh dalam dompet makin tebel dah itu dompet, jadi buat "ngoreknya" gampang, tinggal comot.(Maksa bener perumpaannya. hahahaha).
ini kelanjutan dari postingan sebelumnye yang bisa dilihat di sini 

Undip migration dari petroleum sepanjang carrier bed yang miring terus terjadi selama tidak ada pengaruh dari keadaan struktur dimana reservoar dapat menjadi sebuah perangkap, dan Petroleum yang bermigrasi akan berhenti dan terperangkap pada suatu perangkap(trap) kemudian tejadi akumulasi dalam perangkap tesebut  Perangkap merupakan tempat dibawah permukaan dimana petroleum terakumulasi.. Element dari trap berupa geometri, batuan reservoar dan seal rock. Perangkap dibedakan menjadi 4 macam, yaitu structural yang dikontrol oleh deformasi dari lapisan, stratigafi yang dikontrol oleh perubahan “kondisi alami” dari batuan itu sendiri, kombinasi yang dipengaruhi baik oleh stratigrafi maupun struktur dan hidrodinamik yang berhubungan dengan aliran air yang melewati reservoar dan terperangkap bersama dengan hidrokarbon tersebut.

Kamis, 28 Juni 2012

Migrasi petroleum

Nah, sekarang ane mau coba berbagi tentang migrasi. Bukan migrasi penduduk ye, tapi migrasi hidrokarbon, mudah-mudahan ane gak salah menafsirkan. (Amiin Ya Allah).
Oke ane mulai ye.

Awalnya pembentukan petroleum oleh degradasi termal dari kerogen didasarkan melalui proses kimia yang terutama dikontrol oleh temperature. Migrasi petroleum dari ‘place of origin’ dalam batuan induk ke tempat akumulasi (place of accumutaion) dalam perangkap reservoir dikontrol oleh faktor fisika dan kondisi fisika-kima dari sediment yang dilalui oleh minyak. Tekanan merupakan faktor utama yang mempengarusi proses tersebut. 2 jenis temperature yang dapat dibedakan pada bawah permukaan. Tekanan hidrostatis  yang merupakan gaya dari fluida yang berhubingan dengan pori yang terisi oleh air pada kedalaman tertentu, dan tekanan lithostatic yang merupakan penjumlahan dari berat batuan yang ditransmikian dari permukaan yang berhubungan dengan kedalaman ditambaha berat dari batuan dalam keadaan jenuh air. Terdapat 2 jenis migrasi yaitu migrasi primer dan migrasi sekunder.
Migrasi primer
Migrasi primer dari petroleum mengikuti gradient tekanan dari jarak pusat batuan induk yang telah matang kearah kontak dengan lapisan reservoarnya. Salah satu faktor yang memepengaruhi migrasi primer adalah kompasi sedimen yang berhubungan dengan pembebanan overburden. Kompaksi didapatkan melalui pengurangan spasi pori yang berhungan dengan keluarnya air didalam pori.
Mekanisme terjadinya ekspulsi (migrasi primer) adalah melalui metode porosity saturation. Metode ini menggambarkan bahwa selama proses pematangan, bahan organic diubah menjadi minyak. Pembentukkan minyak yang mengisi pori diakibatkan oleh penghancuran kerogen. Minyak tersebut menguasai resistensi kapiler dan mulai untuk bermigrasi. Terjadinya Overpressure yang disebabkan oleh konversi dari kerogen menjadi minyak dan gas dalam bentuk mikro dalam batuan menyebabkan minyak dan gas bermigrasi pada fase fluida. Faktor lain yang mengontrol migrasi primer adalah geometri sedimen pada batuan induk. Expulsion efficiency leih besar ketika batuan induk mempunyai ketebalan yang tipis dan hidrokarbon memiliki jarak yang lebih pendek untuk migrasi ke lapisan yang lebih permeable (carrier bed).
Migrasi sekunder
Setelah petroleum melewati batuan induk/kontak dengan lapisan reservoir, terjadi kondisi fisik yang beberda. Secara signifikan menjadi memiliki porositas yang lebih tinggi, permeabilitas dan ukuran pori yang membuat minyak dapat berpindah tempat. Perpindahan tersebut terjadi  pada fase minyak yang lain yang dikontrol oleh gaya buoyancy yang berhubungan dengan perbedaan densitas antara petroleum dan air. Semakin bersar volume antara minyak dan air semakin meningkat gaya buoyancynya. Faktor lain yang mempengaruhi adalah gaya hidrodinamis sedangkan gaya yang melawan kedua gaya tersebut adalah tekanan kapiler. Jika batuan memiliki lubang pori yang sangat sempit, perpindahan secara kapiler akan lebih dominan dibandingkan gaya buoyancy, sehingga proses entrapment terjadi. Migrasi petroleum pada lapisan reservoir batupasir dipengaruhi oleh gaya buoyancy dan oleh sebab itu akan mengarah langsung pada lapisan batuan yang cenderung miring. Perpindahan ini dikenal sebagai updip migration.

Oke cukup dulu, ntar ane update lagi lah ye.

Petroleum generation (Pembentukan Petroleum)

Salam. Sebelum bulan Juni ini kelar, ane mau coba posting lagi. sekarang udah mulai sibuk, jadi ini blog kayaknya mulai terbengkalai, tapi ane coba untuk tidak mentelantarkannya sehingga terbesit dipikiran ane untuk mengaktifkannya kembali (buset ngomong bae, kapan postingnye?).
Oke ane mulai.

Pada awalnye minyak dan gas dibentuk oleh degradasi thermal dari kerogen dalam lapisan batuan induk. Dengan penambahan  kedalaman (timbunan), temperature dalam batuan meningkat dan tentu saja temperature threshold (batas) dan secara kimia, bagian yang kurang stabil dari kerogen akan mulai berubah menjadi petroleum (jeng injeng). Mekanisme reaksi utama adalah hancurnya ikatan karbon (cracking), yang membutuhkan  energy termal yang melampaui tingkatan minimum (activation energy). Activation energy bervariasi berdasarkan posisi dan jenis dari ikatan karbon dalam struktur kerogen. Ikatan antara karbon dan heteroatom (N, S dan O) lebih kurang stabil dan mudah untuk hancur. Hasil pertama yang dibentuk oleh batuan induk selama penimbunan (burial) adalah N, S, dan O yang terikat bersama dengan karbon dioksida dan air. Pada tingkat temperature yang lebih tinggi, senyawa petroleum dibentuk dengan cracking oleh ikatan karbon dalam struktur kerogen dengan cara penghilangan bagian panjang dari rantai aliphatic dan struktur cincin yang jenuh (aromatic). Reaksi tersebut menghasilkan perubahan gradual dalam komposisi dasar kerogen terutama dalam peningkatan kandungan hydrogen. Proses dari kerogen yang bertransformasi seiring dengan meningkatnya temperature dinamakan maturasi, yang dibagi menjadi catagenesis dan mentagenesis.
Panas (atau dalam kamus anak kecil 'Nanas') merupakan faktor utama dalam kematangan dan reaksi pembentukan petroleum. Interval temperature dimana pembentukan minyak sedang terjadi dikenal sebagai “liquid window” atau “oil window”, yang cenderung mengarah pada interval sekitar 80-150oC.  parameter maturasi yang umum digunakan adalah vitrinite reflectance (Ro) dan biomarker maturity ratios. Partikel vitrinite merupakan komponen petunjuk yang tersebar luas dalam batuan induk yang dapat diidentifikasi dibawah mikroskop refleksi. Dengan bertambahnya maturasi, tingkat kekilapan dari partikel vitrinie untuk merefleksikan cahaya putih meningkat (gas lebih tinggi dibandingkan minyak).
Alasan mengapa perubahan gradual dari minyak ke kondensat hingga pembentukan gas terjadi adalah suplai dari struktur yang kaya hydrogen dalam kerogen meningkat. Batuan induk dengan tipe kerogen III, akan cenderung membentuk sedikit minyak dan dominan gas serta kondensat hanya setelah tingkat kematangan dari refleksi vitrinite sebesar 0.7% tercapai. Asal dari gas alam lebih komplek. Baik kandungan hidrokarbon maupun nonhidrokaron memiliki sumber yang bersifat multiple. Prisip dasar dari batuan induk hidrokarbon dengan kandungan gas adalah:
a) bakteri methanogenic; b) kerogen dengan semua tipe; c) batubara; d) cracking dari ikatan panjang hidrokarbon dalam reservoir dan batuan induk dengan kandungan minyak.
Parameter lain yang mempengaruhi maturiti  adalah specific biomarker ratio. Tekanan yang berhubungan dengan temperature merupakan faktor utama yang membuat perubahan dalam stereochemistry dari molekul biomarker secara individu. Susunan spasial dari kelompok methyl khusus (-CH3) atau ataom hydrogen sebagai bagian dari sistem berbentuk cincing atau ikatan persegi, berubah secara sistematis sebagai fungsi dari meningkatnya temperature. Selama pementukan petroleum, beberapa reaksi terjadi. Reaksi tersebut dikontrol oleh reaksi kinetic yang berbeda (activation energy, frequency factor, etc).
nah, sekian dulu untuk thread ini, ntar ane update lagi.

Kamis, 31 Mei 2012

MICP, Dissplacement pressure dan Capillary pressure

wah, udah lama juga ane gak nulis ini blog, (sok sibuk). Ane dapet tugas lagi, jadi mau share lagi tentang tugasnya. Kalo salah ya dari ane, kalo bener ya dari Sang Maha Pencipta. Oke kita mulai.
Tugas ane berhubungan dengan MICP. Apa itu MICP? Mi Indomie Campur Pangsit? Bukan bung, tapi Mercury Injection Capillary Pressure. Itu semacam metode laboraturium yang banyak gunanya lo. Bisa buat mengetahui banyak hal termasuk kepribadian mu (lho?, gak lah). 
Kalo bahasa ilmiahnya, MICP merupakan salah satu metode yang dilakukan dilaboraturium untuk mengetahui hubungan dari distribusi ukuran pori, analisis petrofisika dan untuk mengetahui volume pori maksimum yang berpotensi dari hidrokarbon. 
(ane dapet info dari alamat ini , tapi kalo mau baca bukunye, lebih sip dah. http://www.searchanddiscovery.com/documents/2009/40395klimentidis/images/fig04.htm).

Trus apa hubungannya dengan capillary pressure?
Capillary preassure merupakan gaya yang menggambarkan pergerakan fluida (hidrokarbon) melalui pori (http://www.spec2000.net/09-cappres.htm) atau waktu kita SD sering sebut gaya kapiler. kayaknya prinsipnya sama cuma beda penerapannya. (Udah beda kelas coy, masak SD mulu). Nah, MICP  kan merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui volume maksimum yang dapat dilalui oleh fluida (hidrokarbon) tersebut  atau dengan kata lain dapat mengetahui porositas dari batuan yang mengandung hidrokarbon tersebut. Biasanya, metode ini memberikan data yang cocok untuk kalibrasi pada suatu log porisitas dan akan lebih meyakinkan apabila analisis dapat dilakukan pada sampel yang segar (fresh) atau sampel cutting yang sebaik data core. 

trus apa lagi hubungannya dengan dissplecement pressure? (Mereka udah putus sekarang. statusnya complicated. hahahaha)
Dissplacement pressure merupakan gaya yang akan menentukan besarnya gaya buoyant minimum yang dibutuhkan untuk migrasi sekunder (http://bairdusa.com/Schowalter/mechan.htm#b11). MICP merupakan salah satu metode yang dilakukan dilaboraturium untuk mengetahui besar pori maksimum yang ada pada batuan terutama reservoir sehingga dapat mengetahui porositas dan permeabilitas batuan tersebut dengan cara memasukan senyawa mercury kedalam pori batuan. Pada percobaan laboraturium, semakin besar tekanan yang diberikan oleh senyawa mercury tersebut maka pori yang dibentuk akan semakin besar pula, sehingga displacement pressure juga akan meningkat. Hal ini akan menyebabkan migrasi sekunder dapat terjadi karena gaya buoyant yang menggerakkan fluida untuk melakukan migrasi sekunder menjadi maksimum. 

Nah, segitu dulu sharingnya, ntar kalo ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi, kalo masih ada umur yang panjang, bolehlah kita menulis lagi.


Rabu, 21 Maret 2012

SPARRY, MICRITIC dan BIO dalam LIMESTONE

Ane coba berbagi tentang beberapa pengertian tentang batuan karbonat, sebenernya ini tugas kuliah ane. Dasar pengertiannye dari buku. Ane gak mau nyebutin nama bukunye, tapi bukunye punya inisial GLOSARRY OF GEOLOGY. Yah, begitulah dia dipanggil. Dia buku yang baik, sering nolongin ane, ane lama-lama jadi demen ama dia. Mungkin suatu hari ane bakalan jadiin dia pacar ane (Lho???). Kembali ke benang merah, ane mulai.
1.    SPARRY ALLOCHEMICAL LIMESTONE merupakan batugamping yang mengandung unsur allochems lebih dari 50% dengan kandungan sparite lebih dari mikrit. Batuan jenis ini menunjukkan lingkungan pengendapan dengan energi pengendapan yang kuat dengan sortasi yang baik.
2.  MICRITIC ALLOCHEMICAL LIMESTONE merupakan batugamping yang mengandung unsur allochem lebih dari 50% dengan kandungan  mikrit lebih banyak dibandingkan dengan  sparite. Batuan jenis ini menunjukkan lingkungan pengendapan dengan energi pengendapan yang lemah, dengan sortasi yang lebih buruk dibandingkan dengan sparry allochemical rocks.
3.  INTRASPARITE merupakan batugamping yang mengandung sedikitnya 25% unsur interclast dengan kadungan  sparite lebih banyak dibandingkan dengan carbonat-mud matrix (mikrite)(Folk, 1959, p.14). umumnya batuan ini terendapkan pada lingkungan dengan energi pengendapan yang tinggi dimana sparrit biasanya bertindak sebagai pengisi pori (pore-filling cement).
4. INTRAMICRITE merupakan batugamping yang mengandung sedikitnya 25% unsur interclast dengan kandungan  mikrit (carbonat-mud matrix) lebih banyak dibandingkan dengan  sparite (Folk, 1959, p.14)
5. BIOSPARITE = batugamping yang mengandung kurang dari 25% unsur interclast dan kurang dari 25% ooliths, dengan perbandingan volume antara fossils dan fragmen fossil dengan pellets lebih dari 3 berbanding 1 dan kandungan  sparit lebih banyak dibandingkan dengan kandungan  mikrit (Folk, 1959, p.14). pada umumnya menunjukkan lingkungan pengendapan karbonat dengan energi pembentukan yang tinggi dengan sparit yang menjadi  pengisi pori. Berdasarkan klasifikasi Folk, pembagian lebih lanjut dari biosparite adalah unsorted biosparite, sorted biosparite, dan rounded biosparite. (bukan biooloogiii)
6. BIOMICRITE = batugamping yang mengandung kurang dari 25% unsur interclast dan kurang dari 25% unsur ooliths, dengan perbandingan volume dari fossil dan fragment fossil dengan pellets lebih dari 3 berbanding 1 dan kandungan mikrit lebih banyak dibandingkan dengan sparit. Pada umumnya menunjukkan lingkungan pengendapan dengan energi pengendapan yang lemah. Unsur organisme yang utama biasanya dispesifikasikan dengan menggunakan istilah seperti “criboid biomicite” atau brachiopod biomicrite”.
untuk kenampakannya kira-kira seperti inilah dia 
Ane minta maaf, untuk kenampakan spesifiknya ane belum cari. Tapi kalo masih ada kesempatan, ane coba update.

Jumat, 09 Maret 2012

CALICHE

Sekarang, ane mau coba berbagi tentang tugas ane yang berjudul caliche. Ane dapet dari sumber-sumber dan diubah dengan pemahaman ane. Caliche termasuk dalam batuan sedimen yang merupakan endapan keras dari kalsium karbonat (CaCO3). Kalsium karbonat tersemenkan bersamaan dengan material lain seperti gravel (keriril), pasir, lempung dan lanau (bukan buat bikin rumah ye). Caliche ditemukan pada lapisan tanah aridisol dan mollisol. Caliche terbentuk diseluruh dunia(tidak di akhirat), umumnya pada daerah dengan iklim arid dan semiarid (arid berarti kering), seperti daerah Australia barat di padangpasir Kalahari, high plains di amerika barat dan padangpasir sonorant. Caliche juga dikenal sebagai hardpan, calcrete, kankar (di india) atau duricrust. Caliche merupakan bahasa spanyol dengan kata aslinya berasal dari bahasa latin clax yang berarti gamping.

Caliche pada umumnya berwarna cerah tetapi dapat juga berwarna putih hingga merah muda terang hingga merah kecoklatan, berdasarkan kehadiran pengotornya (kalo diundang). Pada umumnya caliche ditemukan dekat permukaan tetapi dapat juga ditemukan pada endapan bawah permukaan yang lebih dalam. Ketebalan lapisan dapat bermacam-macam mulai dari beberapa inchi hingga beberapa kaki, dan lapisan yang berulang dapat terjadi pada lokasi yang sama.
Di utara chili dan peru, caliche juga mengarah ke endapan mineral yang mengandung garam nitrat. Di Meksiko dan kolombia Caliche juga dapat mengarah ke jenis endapan seperti lempung.  Material yang sama yang mengandung kalsium sulfat lebih banyak dibandingkan kalsium karbonat dinamakan gypscrust.

Bagaimana terbentuknya.??
Caliche (dibaca kul-lee-chee bukan kuli ye) umumnya terbentuk ketika mineral mengalami pencucian dari lapisan atas tanah (horizon A) dan terakumulasi di lapisan dibawahnya (horizon B), pada kedalaman sekitar 3 hingga 10 kaki dibawah permukaan. Caliche umumnya mengandung karbonat pada daerah semiarid, sedangkan pada daerah arid, mineral yang tidak dapat larut akan membentuk lapisan caliche setelah semua karbonat telah mengalami pencucian dari tanah. Kalsium karbonat yang diendapkan kemudian terakumulasi, pertama membentuk butiran, kemudian gumpalan kecil, kemudian menjadi lapisan dan akhirnya menumpuk dan menjadi tebal hingga menjadi lapisan yang solid. Setelah lapisan caliche terbentuk, lapisan kemudian secara bertahap menjadi lebih dalam, hingga sampai ke material induk yang berada dibawah lapisan tanah yang berada diatas.
Caliche dapat terbentuk dengan cara lain. Caliche dapat terbentuk ketika air naik melalui proses kapilarisasi. Pada daerah arid, airhujan akan masuk ke dalam tanah dengan cepat, kemudian ketika permukaan menjadi kering, air yang berada di bawah akan naik, membawa mineral-mineral hancuran dari lapisan dibawah. Perpindahan air membentuk caliche yang cenderung untuk tumbuh menipis  dan bercabang ketika dekat permukaan. Tanaman dapat berkontribusi dalam pembentukkan caliche. Akar tanaman membawa air melalui proses tranpirasi, kalsium karbonat akan tertahan, dan ketika proses presipitasi akan membentuk caliche. Caliche juga dapat terbentuk pada singkapan dari batuan yang bersifat porous atau dalam rekahan batuan di mana air terperangkap dan mengalami evaporasi. Umumnya, pengendapan caliche merupakan proses yang lama, tetapi jika terdapat pengotor di daerah tersebut, dapat menyebabkan akumulasi yang cukup cepat. Nah, begitulah cerita tentang caliche, jika ada masukan ane sangat berkesan dan terharu. Terimakasih.

Minggu, 12 Februari 2012

Penambangan Batubara


Sekarang ane mau coba sharing tentang penambangan batubara, secara umum serta proses-proses yang terlibat di dalamnya. Semua akan dibahas secara tajam, setajam siluet (lho??). Disini, ane Cuma coba sharing hal-hal yang menyangkut teori (Indonesia banget), tapi kita ambil positignya, bahwa praktek tanpa teori seakan sayur tanpa garam. mulai. Inti dari penambangan batubara adalah mengambil batubara dari bumi (ya iyalah, namanya juga penambangan batubara, kalo penambangan batu kali yang diambil ya batu kerikil). Batubara sangat berguna sebagai salah satu komponen dari pembangkit energy, dan sejak tahun 1880 an digunakan secara luas untuk tenaga dalam pembangkit listrik. Industri baja dan sement juga menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk proses ekstraksi besi dari bijih besi dan untuk produksi semen.
Metode Ekstraksi
Metode yang paling ekonomis untuk ekstraksi batubara dari lapisan batubara tergantung pada kedalaman dan kualitas dari lapisan batubara, serta faktor geologi dan lingkungan. Proses penambangan batubara dibedakan dari apakah mereka mengekstrak dari permukaan atau bawah permukaan sehingga membutuhkan proses “washing” dalam penambangan batubara. “washing” disini maksudnya bukan mencuci ya gan, secara harfiah artinya memang itu, tapi maksudnya disini adalah pembersihan lapisan atas yang pada bagian bawahnya terdapat lapisan batubara. Kegiatan teknikal dan kelayakan ekonomi akan dievaluasi berdasarkan pada hal-hal berikut ini: kondisi geologi regional, karakteristik lapisan overburden, keberlanjutan lapisan batubara, ketebalan, struktur, kualitas, kedalaman, kekuatan dari material diatasnya dan dibawah lapisan yang menjadi roof dan floor, topografi, iklim, kepemilikan tanah (siapa tahu tanahnya hibah), kondisi air bawah permukaan, ketersediaan tenaga kerja dan material yang dibutuhkan, permintaan pembeli batubara, dll.
Nah, untuk penambangan permukaan dan penambangan bawah permukaan merupakan dua metode penambangan batubara yang dasar. Pemilihan dari metode yang akan digunakan tergantung dari kedalaman timbunan, densitas dari lapisan overburden dan ketebalan dari lapisan batubara. Lapisan batubara (seams) yang dekat permukaan rata-rata memiliki kedalaman kurang dari 180 ft (50 m). Nah yang dalemnya, biasanya mempunyai kedalaman sekitar 180 hingga 300 ft ( 50 sampai 100 m).
Modern Surface Mining
Jenis penambangan ini dibagi menjadi beberapa jenis penambangan seperti: Area Mining, contour mining, Mountaintop removal mining, Room and pillar mining, Underground Mining. Untuk penjelasannya ane lanjutin di posting berikutnye ye. Sekarang ane mau coba jabarin yang underground mining dulu.
Underground mining dilakukan di bawah permukaan (ya iyalah, underground, kalo underwear beda lagi, ups). Ada lima prinsip dari metode underground mining
1.      Longwall mining
2.      Continous mining
3.      Blast mining
4.      Shortwall mining
5.      Retreat mining
Nah, yang ini juga penjelasannya ane coba share di postingan selanjutnye ye.

Sabtu, 04 Februari 2012

Bauksit (Bauxite)

Sedikit tentang Bauksit, ane mau coba sharing tentang perihal yang satu ini. Katenye, Bauxite itu bukan mineral (apa iya?), tetapi merupakan salah satu produk dari pelapukan batuan yang mengandung beberapa mineral pokok. Menurut literatur, bauksit tersebut mengandung beberapa komposisi "hydrated aluminium oxides" atau aluminium oksida hidroksida. yang pada dasarnya berupa mineral gibbsite (Al(OH)3), boehmite (AlO(OH)), dan diaspore (AlO(OH)). Pengotor (sampah donk ye?) pada bauksit dapat berupa mineral lempung, hematite, magnetite, goethit, siderit, dan kuarsa dan bauksit ini merupakan salah satu endapan yang mengandung sedikit mineral rutile, anatase dan zircon. Untuk sifat fisik atau propertiesnye ane coba jelasin, begini bunyinya:



Group                          : Hydroxides
Crystal system             : Amorphous mixture
Composition                : mixture of hydrous aluminium oxides
Colour                         : white, yellowish, red, reddish-brown
Form/Habit                  : Amorphous
Hardness                     : 1 – 3 (lemah banget ye)
Cleavage                     : None (tidak ada bukan pasanganye abang, emang pemilihan abang none?)
Luster                          : Earthy
Fracture                       : Uneven
Streak                          : Usually white
Specific Gravity          : 2.3 – 2.7
Transparency               : opaque

Aluminium Ore
Katanya, tidak semua bauksit cocok untuk ditambang (lho? kenapa?? kenapa semua itu terjadi?). Bijih harus memiliki kandungan aluminium-oxide sama dengan atau bisa lebih dari 30 persen untuk menjadi bahan ekonomis (ooooo,....). Sebagai rata-rata atau perkiraanya, 4 ton dari bijih terdapat 1 ton aluminiumnye. Nah, untuk tambang bauksitnye, 90 persentnye itu dilebur (smelted) menjadi aluminium, sisanye dibuat alat-alat atau benda-benda seperti abrasives dan refractory.

Segini dulu ye, ntar ane upgrade lagi infonye, mudah-mudahan bermanfaat, bagi ane khususnye, dan pembaca yang budiman semuanya,.



Rabu, 01 Februari 2012

Emas (Karakteristik dan Keindahannya)

Sekarang ane mau sharing tentang emas. Ada banyak emas di dunia ini, apalagi di Indonesia, seperti eMas parkir, eMas Bakso, dll (lho???). Tapi kita gak bakalan bahas tentang emas-emas tadi, kita bahas emas dalam lingkup geologi. Pernah dengar kalimat ini?

"what do you not drive human heart into, cursed craving for gold" virgil., Aenied.

Tau gak gan, Mineral yang satu ini merupakan logam yang berharga. Warnanye dan kecerahannya sangat "attractive". Emas telah digunakan oleh manusia kurang lebih 6000 tahun yang lalu (ane jadi bingung emang tahun segitu, kira-kira siapa yang beli ye?).  Properties atau sifat fisik dari mineral yang satu ini seperti berikut (ehem):
Group                          : Native elements
Crystal system             : Cubic
Composition                : Au
Color                           : Golden-yellow
Form/Habit                  : octahedral, dodecahedral, dendritic
Hardness                     : 2 1/2 - 3

Cleavage                      : None
Fracture                       : Hackly
Streak                          : Golden-yellow
Specific Gravity           : 19.3
Transparency               : Opaque

ini, pelakunye , emas (gold), beautiful right?

Emas jarang ditemukan dalam bentuk oktahedral dan dodecahedral yang sempurna, tapi lebih umum ditemukan dalam bentuk denditic dan berupa butir. Panjang kristalnye kira-kira 25 cm (1in) yang ditemuin di California, dan beratnye ada yang sampe lebih dari 90 kg (buset, kalo dijual itu dapat duit segudang) yang ditemuin di Australia. Di bumi, terutama di bagian kerak, kelimpahannye diperkirain cuma 0,005 ppm (part per million). Sedikit banget ye, makanya buat para kaum hawa, jangan suka beli emas yang banyak trus gak dipake, nyarinye susah tau, trus cuma sedikit lagi. Trus, mineral ini sulit banget menjalani silaturahmi sama mineral lain (maksudnye ikatan antar ion dengan mineral lain sangat sulit), jadi hanya sedikit atau mungkin jarang terdapat gold-bearing mineral (mineral pembawa emas), tapi, yang kebetulan bisa dan beruntung sebagai gold-bearing ada kok, yaitu mineral tellurium dan selenium (ciyee).


The Color of Gold
Biasanya, warna alami dari emas adalah golden-yellow, tapi kadang-kadang emas tersebut dicampur agar warnanya lebih menarik. Seperti, kalo dicampur sama tembaga (copper) entar jadinya warna merah atau merah muda, kalo sama besi (fe) jadi berubah sedikir biru, kalo ditambah perak, platinum, nikel, atau zinc  warnanya jadi pucat atau putih. Sama halnya dengan kekerasan mineral ini. Agar kekerasannya meningkat, emas biasanya dicampur dengan logam lain ( untuk skala perhiasan). Nah, untuk kemurnian dari logam emas yang udah dicampur biasanya diwakilkan dengan yang namanya "karat" (bukan berarti karat yang besi lo, ntar dikira karat, ngapain beli emas yang bener-bener berkarat, cari aje besi loakan). Angka pada karat tersebut mewakili kemurnian dari emas, jadi andaikata itu emas punya nilai 24 karat, berarti mengandung 100 % emas murni, nah kalo cuma 9 karat berarti tinggal 9 per 24 dikali 100 persen dah.

Gold In Industry
Bukan cuma tuk perhiasan, emas ini juga bisa digunain dalam industri, seperti electrical conductivity. Selain itu, emas juga digunain di satelit lo gan, gunanya untuk mengontrol suhu di satelit ntu tadi .Jauh-jauh ke luar angkasa cuma jadi remot AC?, tapi keren ye.

Satelit GPS

Nah, segitu dulu ye, untuk info lainnye tentang emas, ane mau cari dulu. Atau kalo buru-buru, bisa langsung tanya ke penjual emas di toko emas terdekat.

Selasa, 31 Januari 2012

Sejarah Tektonik Pulau Jawa

Kali ini ane mau posting tentang sesuatu yang ekstrim, soalnye ane juga belum rada ngerti, tapi ane mau coba sharing. Tentang sejarah tektonik pulau jawa, jangan dipikir kalo nanti keluar gatot kaca atau gadjah mada, soalnya itu sejarah untuk SMA. oke kita mulai.


Pulau Jawa merupakan salah satu pulau di Busur Sunda yang mempunyai sejarah geodinamik aktif, yang jika dirunut perkembangannya dapat dikelompokkan menjadi beberapa fase tektonik dimulai dari Kapur Akhir hingga sekarang. Kita bahas dari kapur akhir sampai paleocene ye,.
Fase tektonik awal terjadi pada Mesozoikum ketika pergerakan Lempeng Indo-Australia ke arah timurlaut menghasilkan subduksi dibawah Sunda Microplate sepanjang suture Karangsambung-Meratus, dan diikuti oleh fase regangan (rifting phase) selama Paleogen dengan pembentukan serangkaian horst (tinggian) dan graben (rendahan). Aktivitas magmatik Kapur Akhir dapat diikuti menerus dari Timurlaut Sumatra –Jawa-Kalimantan Tenggara. Pembentukan cekungan depan busur (fore arc basin) berkembang di daerah selatan Jawa Barat dan Serayu Selatan di Jawa Tengah. Mendekati Kapur Akhir – Paleosen, fragmen benua yang terpisah dari Gondwana, mendekati zona subduksi Karangsambung- Meratus. Kehadiran allochthonous micro-continents di wilayah Asia Tenggara telah dilaporkan oleh banyak penulis (Metcalfe, 1996). Basement bersifat kontinental yang terletak di sebelah timur zona subduksi Karangsambung-Meratus dan yang mengalasi Selat Makasar teridentifikasi di Sumur Rubah- 1 (Conoco, 1977) berupa granit pada kedalaman 5056 kaki, sementara didekatnya Sumur Taka Talu-1 menembus basement diorit. Docking (mera-patnya) fragmen mikrokontinen pada bagian tepi timur Sundaland menyebabkan matinya zona subduksi Karang-sambung-Meratus dan terangkatnya zona subduksi tersebut menghasilkan Pegunungan Meratus.
ni gambar rekonstruksi skematis perkembangan tektonik kapur-paleosen (Prasetyadi, 2007)

Masih membahas tentang sejarah tektonisme pulau jawa, evolusi tektonik tersier pulau jawa memasuki periode Eosen (Periode Ekstensional /Regangan). Periode ini terjadi Antara 54 jtl – 45 jtl (Eosen), dimana di wilayah Lautan Hindia terjadi reorganisasi lempeng ditandai dengan berkurangnya secara mencolok kecepatan pergerakan ke utara India. Aktifitas pemekaran di sepanjang Wharton Ridge berhenti atau mati tidak lama setelah pembentukan anomali 19 (atau 45 jtl). Berkurangnya secara mencolok gerak India ke utara dan matinya Wharton Ridge ini diinterpretasikan sebagai pertanda kontak pertama Benua India dengan zona subduksi di selatan Asia dan menyebabkan terjadinya tektonik regangan (extension tectonics) di sebagian besar wilayah Asia Tenggara yang ditandai dengan pembentukan cekungan-cekungan utama (Cekungan-cekungan: Natuna, Sumatra, Sunda, Jawa Timur, Barito, dan Kutai) dan endapannya dikenal sebagai endapan syn-rift. Pelamparan extension tectonics ini berasosiasi dengan pergerakan sepanjang sesar regional yang telah ada sebelumnya dalam fragmen mikrokontinen. Konfigurasi struktur basement mempengaruhi arah cekungan syn-rift Paleogen di wilayah tepian tenggara Sundaland (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan Tenggara).



Sabtu, 21 Januari 2012

Globigerinoides Primordius


Sekarang ane mau sharing info tentang  Globigerinoides primordius, ane baru baca dikit, trus kebetulan itu juga jadi tugas ane. Oke, ane mulai dari silsilah keluarganya.
Nama Superregnum  : Eukaryota
 Nama Regnum : Protoctista

 Nama Phylum : Granuloreticulosa
 Nama Classis : Foraminifera
 Nama Ordo : Globigerinida
 Nama Superfamilia : Globigerinaceae
 Nama Familia : Globigerinidae
 Nama Genus : Globigerinoides
 Nama Species : Globigerinoides primordius

Menurut om Kennett & Srinivasan (om? Kapan kawin ama tante ente? Sembarangan) pada tahun 1983, organisme yang satu ini punya susunan test (cangkang) yang low trochospiral dengan kamar 3 sampai 3 setengah pada putaran terakhir (3 setengah? Nanggung amat buatnya?) trus punya aperture antara interomarginal ama umbilical. Ukurannya meningkat apabila kamarnya bertambah (mungkin maksudnye kamar-kamar terakhir, ukurannya lebih gede dari kamar yang pertama, kayak kamar tamu tu lebih gede dari pada teras).

Tapi ane masih belum ngerti ama penjelasan om  Kennett tentang Permukaan pada kamar yang terakhir “hispid finely” dengan short blunt spines. Ane coba cari maksudnye hispid finely berdasarkan kamus besar bahasa geology (glossary of geology maksudnye) dia tertutup dengan spines seperti rambut yang panjang (nah lo, maksudnya apaan lagi tu? Mungkin nih organisme punya rambut tapi keriting, trus disampo pake rejoice, jadi lurus,hahahaha becanda gan), trus yang short blunt spines maksudnya punya spines yang tumpul dan pendek. Berarti permasalahan ada di spinesnya itu. Trus ane tanya ke mas Wikipedia katanya itu artinya struktur kayak jarum yang ada di hewan. Nah jadi PR dulunya penjelasan yang satu ini, ane masih mau baca-baca dulu. Tapi ane kasih linknye, mungkin agan/aganwati bisa mengerti dengan lebih seksama 

Senin, 16 Januari 2012

Penambangan Emas daerah Ajibarang

Sekarang ane mau coba sharing tentang tugas ane untuk ngamatin daerah Banyumas, tepatnya daerah Ajibarang tapi tentang penambang emasnye dulu, soalnye untuk geologi regional ane masih mau nyari refrensi yang bagus, terpercaya dan terdepan dalam mengabarkan (emangnye seputar indonesia?), . Oke, kita mulai. Daerah ajibarang merupakan daerah di kecamatan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kecamatan ini terletak di bagian utara Kabupaten Banyumas sekitar 18 km dari kota purwokerto.  Katenye, penambangan emas daerah ntu dimulai ama orang Tasikmalaya yang coba nyari ntu emas di daerah ajibarang tadi, trus dapet, ya udah jadi ketagihan nyari ampe sekarang. Tapi, sekarang udah ada pengelola yang ngurusinnye, yaitu koperasi setempat. Katenye, penambangan emas tradisionil daerah ini paling aman gan, soalnye, lubang-lubangnye (ato bahasa kite shaft) ada penahannye, di kiri ame kanan lubang dipasang balok kayu untuk nahan tu lubang biar gak ambruk (tapi gak tau tu kalo ada HULK yang loncat-loncat diatasnye, lebih baik kita serahkan pada yang diatas ja'). Menurut para ahli tambang kasar (yang nyemplung ke lubang-lubang itu maksudnye) mereka ntu didalem ngejer-ngejer urat gan. Jadi kalo ketemu urat langsung dah dikejer  walaupun sampe ke negeri cina (emang ntu urat bisa nyebrang benua apa?). Pengolahan batuan tambang nya  pake alat yang namanya glundung. Jadi, ntar waktu batuan yang ditambang udah diangkat dari sumur, ntar dimasukkin ke alat ntu supaya dipisah antara batuan ame emasnya. O, ya ane punya foto-fotonye waktu di sana, kayak gini.

ni pintu masuk "into the core", tapi gak ada ucapan selamat datangnya

ni bapak menjalankan kata-kata orang bijak, jika mau bersyukur lihatlah kebawah, 

ni lobangnya, ada kayunya di kiri kanannye tau dah ngangkutin ama ngelemnye gimana, aman, bisa buat olahraga bagijamping, hahaha,.

ini salah satu spesies makhluk hidup yang berhasil keluar dari lubang tersebut. (becanda gan, ini temen ane).
ni lagi misahin "bijih" emas pake raksa, tu yang baju orange mau minta raksanya buat minum kayaknya.

ni alat bukan buat bikin pop ice gan, tapi ni alat yang buat misahin batu ama emasnye.

Sementara, ntu bae infonye, mudah-mudahan kalo ada kesempatan lagi, ane tambahin ye,.








Sabtu, 14 Januari 2012

Orbulina Universa

Sekarang, ane mau bagai info tentang organisme cilik yang satu ini. Postingan ini masih nyambung ama yang kemaren tentang foraminifera. Nah, ane mau ngebahas salah satu spesiesnya dari golongan foraminifera planktonik. (ready? let's begin). Kita mulai dari silsilah keluarganya:
Nama phylum : Protozoa
Nama class : Sarconida
Nama Ordo (order) : Foraminiferidae
Nama Superfamily (keluarga besar donk, hahaha) : Globigerinacea
Nama Family : Globigerinidae
Nama Genus : Orbulina
Nama Spesies : Universa.
untuk organisme ini, tahapan awalnya mirip kayak globogerinoides tetapi pada chamber terakhir melingkupi seluruh tubuhnya. kyak gini-ni

nih tampak kiri, kanan, atas, bawah (lo kok gitu?; lah wong bentuknya bulet, dilihat dari mana aja ya pada bae.)
nih kalo isi perutnya dipecah, ada oroknya gan, eh bukan itu kamar-kamarnya.

Untuk penyebarannya, biasanya ada di daerah atlantik selatan (buset, jauh amat ya dari Indonesia?) spesiesnya terbatas pada daerah air hangat dan daerah upwelling (upwelling itu maksudnya daerah yang agak dingin, dari daerah air agak dalam sampai ke permukaan, terutama di daerah pantai barat dari lempeng benua (seperti di daerah California)itu kata glosarry lo) di Benguela.
untuk penyebaran di daerah atlantik selatan, ane ada petanya. coba lihat di sini gan, .
penjelasannya kayak gini, angka-angka tersebut menunjukkan kontur dan penyebaran relatif dari spesies ini, terutama didaerah atlantik selatan.

untuk gaya hidup, sama kayak jenis foraminifera planktonik yang laennya, ngambang (ngambang???, maksudnya melayang di dalam air laut).

Mudah-mudahan ngerti ya, soalnye ane juga rada belum ngerti. Maklum, sambil belajar juga, hahaha,.

Jumat, 13 Januari 2012

FORAMINIFERA

Kali ini saya bakal coba bicarain tentang hewan super kecil yang cuma bisa dilihat lewat mikroskop (sotoy kan ada yang bisa dilihat pake mata biasa ; o, iya ya). FORAMINIFERA, begitu bunyinya (hahaha lebay).Apa sih foraminifera? kok special? penting? (ya iyalah bego, kita bakalan buta kalo gak tau hewan satu ini soalnye minyak mungkin kaga ketemu) oke kita lanjut, foraminifera itu sebenarnye orgnisme bersel tunggal (protista) yang punya cangkang (atau bahasa kerennye 'test'). Test foraminifera ini umunya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun sambung-menyambung selama masa pertumbuhannye. bahkan katenye ada yang berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk bola dengan satu lubang (buset serem amat, makannya gimane?). test foraminifera tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau partikel-partikel lainnye yang lengket tersatukan oleh semen, ato kristal CaCO3 tergantung dari spesiesnye.

Nah, pengelompokkan foraminifera biasenye didasarkan atas 2 hal, yaitu kategori taksonomi dan non-taksonomi. kategori taksonomi tu berdasarkan ukuran dan kebiasaan hidup, yaitu foraminifera besar dan foraminifera kecil, spesifiknya menjadi jenis planktonik sama bentonik. foraminifera gede merupakan foraminifera yang dapat terlihat dengan mata telanjang (ha? what???) secara morfologi, tapi tuk bedaain antar spesies kudu diliet struktur dalemnye pake cara sayatan ato asahan tipis trus diliet dibawah mikroskop. kalo foraminifera kecil, langsung bae pake mikrokop ngamatinnye, wong udah kecil, kalo disayat habis dong.
kalo yang non-taksonomi itu didasarkan pada kriteria morfologi sama genetik organismenye.

Untuk gampangnye, biasenye pembagian menjadi foraminifera planktonik sama bentonik. foraminifera planktonik umumnye ukurannya pada cilik-cilik, tapi yang bentonik, ada yang cilik tapi ada juga yang gede. nah untuk gaya hidupnye (buset, gaya hidup) foraminifera planktonik biasenye ngambang tu di laut artinye die gak bertambat atau berada di dasar batuan di laut, kalo yang bentonik biasenye nambat tu. Nah, gaya nambatnye juga ada 2 macem. sesile ame vagile. kalo vagile die bise berpindah tempat pake pseudopodia, tapi kalo vagile kagak bise. dia tertambat terus kaya patung tu, kagak bisa gerak-garak (hahaha kasian amat ye). 

Nah, sekarang ane coba jelasin perbedaan antara yang planktonik sama yang bentonik, tapi secara umum dulu, baca ye,.
Foraminifera planktonik mempunyai bentuk dasar test yang globuler, subglobuler, bulat atau lensa. susunan kamarnya trocospiral dengan dinding test berupa hialin. jumlah kamar pada foram ini plythlamaus dengan apertur yaitu enteromarginal, equatorial, dan umbilical. Hiasan dinding testnya sedikit, jarang atau halus dan berpori. ni ane kasih gambarnye

Kalo yang bentonik, bentuk dasar testnye memanjang, pipih, sisi dorsal rata. Susunan kamarnye planispiral dengan dinding test berupan porselen, agglutinated. Jumlah kamarnye monothalamus dengan aperture terminal. hiasan dinding testnya beraneka ragam, kasar dan tidak berpori.

nah sekilas tentang foraminifera, untuk detailnye di posting yang berikutnya ya,.

TENTANG BATUAN BEKU dan DIAGENESANYA


Seperti namanya, batuan “beku”. Ya dia terbentuk karena adanya proses pembekuan tepatnya pendinginan atau lebih tepatnya penurunan suhu dari larutan pijar yang super panas (kalo buat mie rebus bakalan cukup buat 2 ton) yaitu MAGMA. Magma bukan nama orang, tapi bahasa kitanya (orang geologi maksudnya…) cairan pijar yang berada di dalam bumi yang sangat panas, suhunya bisa ampe 1400oC itu dari literature lo (kayak pernah baca aja). Kembali ke batuan beku. Batuan beku sendiri berdasarkan diagenensanya dibagi menjadi 2 macam sob. (ya elak pake sob, emang ngomong ama siape ente?) Yaitu batuan beku intrusive dan batuan beku ekstrusive. Kita bahas dari yang intrusive dulu ye (iye…..).Batuan beku intrusive berarti dia terbentuk di dalam bumi. Artinya dia tidak berinteraksi dengan permukaan bumi dan dia membeku di dalam bumi (ya iya lah bego, namanya juga terbentuk didalam bumi). Batuan jenis ini biasanya punya tekstur mineral yang gede (faneritik) karena proses pembentukkan mineral tersebut berlangsung lama. Artinya penurunan suhu yang terjadi pada magma tersebut dapat memungkinkan sebuah mineral untuk bisa tumbuh secara optimal pada saat tertentu. Biasanya faneritik itu ukurannya lebih dari 2 mm, (teorinya).  Nah, kembali ke magma, magma sendiri katanya bisa menyusup melalui rekahan-rekahan batuan disekitarnya dan dapat juga memotong perlapisan. Bentuk-bentuk yang memotong struktur batuan disekitarnya disebut diskordan dan yang searah mendatar disebut konkordan. Nih kaya gambarnya.
Ane coba jelasin ya,(sotoy banget ye) bismillah,.

Batolit, merupakan tubuh batuan beku dalam (pluton) yang paling gede dimensinya (maksudnya ukurannya). Bentuknya tidak beraturan, memotong lapisan-lapisan batuan yang diterobosnya. Kebanyakan batolit merupakan kumpulan massa dari sejumlah tubuh-tubuh intrusi yang berkomposisi agak berbeda. Perbedaan ini mencerminkan bervariasinya magma pembentuk batolit. Batolit gak terbentuk oleh magma yang menyusup dalam rekahan (ya iyalah, wong gede banget. Katanya bisa sampai 1000 km panjangnya, lebarnya ampe 250 km, nyusup rekahan model apaan tu). Dan karena besarnya, batolit tadi dapat mendorong batuan diatasnya. Meskipun batuan yang diterobos dapat ketekan ke atas oleh magma (ketekan? Apaan tu?) yang bergerak ke atas secara perlahan, tentunya ada proses lain yang bekerja. Magma yang naik melepaskan fragmen-fragmen batuan yang menutupinya. Proses ini dinamakan stoping. Block-block hasil stoping lebih padat dibandingkan magma yang naik, sehingga mengendap. Saat mengendap fragmen-fragmen ini beraksi dan sebagian terlarut dalam magma. Tapi gak semuanya terlarut dan mengendap di dasar dapur magma. Setiap fragmen batuan yang berada dalam tubuh magma yang sudah membeku dinamakan xenoliths.

Next lanjut,.

Dyke atau korok (gorok?; korok bego,.) disebut juga gang, merupakan salah satu batuan intrusi yang dibandingkan dengan batolit, tapi dimensinya lebih kecil. Bentuknya tabular, sebagia lembaran yang kedua sisinya sejajar, memotong struktur (perlapisan) batuan yang diterobosnya. (begitu,.)

Lanjut ke konkordan

Ada sill, sill merupakan intrusi batuan beku yang konkordan atau sejaar terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya. Berbentuk tabular dengan sisi-sisi sejajar.

Terakhir ada laccolith, laccolith sejenis dengan sill yang merupakan intrusi yang sejajar dengan perlapisan batuan yang diterbosnya. Hanya aje bedanay itu bentuk atasnya, kayak payung, jamur yang lelengkung atau cembung keatas.

Kita beralih ke batuan beku ekstrusif (wussssssft).

Batuan beku ekstrusif pada dasarnya merupakan batuan beku yang mengalami proses penurunan suhu di permukaan bumi. Sehingga berinteraksi dengan udara yang akibatnya mempercepat proses penurunan suhu tersebut (waw…). Sialnya lagi buat komunitas batuan beku ekstrusif (what? Komunitas?) mineral yang terbentuk juga jadi kelabakan karena proses pendinginan yang kecepetan. Jadinya ukuran dari mineral-mineral tersebut menjadi cilik-cilik alias kecil. Tekstur batuan yang dihasilkan dari proses ini dinamakan tekstur afanitik, dimana ukuran mineralnya biasanya sangat halus, (buset,.jadi perlu alat bantu mikroskop?; lebay pake loupe juga bisa). Sebenarnya penyebab magma bisa “nengol” kepermukaan, gara-gara tuh magma gak sabaran mau keluar. Jadi dia keluar lewat rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi. Nah keluarnya magma di permukaan bumi melalui rekahan tadi dinamakan sebagai erupsi linier (tidak!!!! Itu persamaan matematika ; tenang aja itu berbeda) atau fissure eruption. Nah, yang keluar lewat kepundang gunung api dinamain erupsi sentral.

Nah, semua info itu bukan sepenuhnya dari otak ane, tapi ada campuran dari beberapa literature, soalnye ane belum paham, nah kite same-same belajar bae ye,.