Jumat, 12 Desember 2014

Bridgmanite: mineral dengan jumlah yang melimpah akhirnya diberi nama


Pada umumnya, mineral di dunia ini ada banyak jumlahnya, setahu ane juga yang udah diberi nama lebih dari 3000 (mungkin kudu pikir-pikir lagi kalo ada yang punya niat buat ngapalin). Dan mungkin yang paling familiar di telinga kita ya mineral kuarsa, karena dia yang paling melimpah dan paling tahan terhadap proses pelapukan dan erosi. Selain itu, mineral ini hampir ditemukan di semua jenis batuan (beku, sedimen, metamorf –red).  Tapi ternyata masih banyak mineral di bumi ini yang memiliki persentase lebih besar dari si kuarsa tersebut.  Salah satunya mineral yang bakalan ane bahas sedikit disini.

Ditahun 2014 ini, para peneliti sudah banyak melakukan penelitian terhadap dunia sains, terutama di bidang geologi. Penelitian terbaru dan informasinya juga masih anget yaitu pemberian nama dari sebuah mineral yang notabene kata para ilmuwan terutama geologist sangat melimpah di bumi. Dan lagi-lagi peneliti dari amerika lah yang memberi nama tersebut. BRIDGMANITE diklaim merupakan salah satu mineral dengan jumlah yang sangat melimpah di bumi, sebelum dikenal dengan nama bridgmanite, para ilmuwan memberikan nama perovskite pada material tersebut. Nama bridgmante akhirnya diberikan oleh para tim geologis asal amerika pada jurnal meraka SCIENCE setelah melakukan beberapa penelitian yang ternyata menggunakan sampel mineral dari meteorit gan.(lah kok gitu?).

(sumber gambar: mindat.org)


Proses pemberian namanya ini sendiri gak segampang membalikan kedua belah tangan gan. Perlu ada proses, dan bagian yang sulitnya, sebelum nama di sematkan ke sebuah mineral, minimal harus ada sample yang bisa dideskripsikan. (ya yang dibumi gampang, lah yang diluar angkasa gimana ceritanya coba).  Awalnya, para ilmuan dibidang kebumian telah mengetahui bahwa sekitar 70 persen penyusun mantel bumi bagian bawah merupakan mineral dengan densitas yang tinggi dan komposisi magnesium iron silicate yang mana kurang lebih 38-60 persen dari total volume bumi.  Tapi masalahnya, mineral ini gak ada dihampir semua planet lainnya sehingga samplenya pun jadi sulit buat diteliti.

Dan masalah lainnya adalah belum memungkinkannya untuk kita dalam waktu dekat ini mengebor sampai ke mantel bagian bawah (lower mantle) dengan kedalaman hingga 670km, sehingga kita gak tau bagaimana kondisi dan situasi di dalam bumi. Dan selama ini kita hanya bisa memprediksi komposisi batuan penyusun bumi dari seimik atau getaran yang dibuat oleh bumi itu (bisa melalui gempa bumi) sendiri yang diukur berdasarkan cepat rambat aliran gelombangnya yang dihubungkan dengan densitas batuan.

Nah untuk mensiasati masalah tersebut, para peneliti kemudian mencoba menganalisis meteorite yang jatuh di bumi pada waktu lampau, yang dianggap sama material penyusunnya dengan material penyusun bumi. Material luar angkasa yang dijadiin sample itu merupakan salah satu chondrite yang pernah jatuh di daerah Queensland, Australia (ya kurang lebih deket lah dari rumah ane) tahun 1879. Dan nama sukarelawan (meteorit) tersebut adalah meteorit tenham. Penelitian pada sampel tersebut dilakukan dengan menggunakan metode x-ray yang dikombinasikan dengan mikroskopelektron.

Pemberian nama Bridgmanite itu sendiri diambil dari salah satu nama ilmuan asal negri paman Sam (amerika), Percy Bridgman dimana om adalah “the father of high-pressure experiments” dan udah dapet piala nobel tahun 1946 dibidang fisika. Nah, komposisi mineralnya itu sendiri adalah (Mg,Fe)SiO3 dengan sistem kristal ortorombik.



0 komentar:

Posting Komentar