slide 1 title

Pertambangan timah daerah Pemali, dengan tipe greisen dan batuan pembawa granit. .

slide 2 title

Strukutur daerah pemali yang terdapat pada batuan filit. merupakan aerole pada daerah tersebut.

slide 3 title

Sayatan tipis (thin section) granite pembawa mineral greisen penghasil bijih timah (sn) pada daerah pemali berumur trias-yura. mineral yang terlihat kuarsa, muskovit.

slide 4 title

Sayatan tipis (thin section) granite pembawa mineral greisen penghsil bijih timah (sn) pada lokasi yang berbeda, menunjukan mineral kuarsa.

slide 5 title

Struktur pada daerah pemali. urat kaoline yang memotong urang tourmaline (?).

Kamis, 28 Juni 2012

Migrasi petroleum

Nah, sekarang ane mau coba berbagi tentang migrasi. Bukan migrasi penduduk ye, tapi migrasi hidrokarbon, mudah-mudahan ane gak salah menafsirkan. (Amiin Ya Allah).
Oke ane mulai ye.

Awalnya pembentukan petroleum oleh degradasi termal dari kerogen didasarkan melalui proses kimia yang terutama dikontrol oleh temperature. Migrasi petroleum dari ‘place of origin’ dalam batuan induk ke tempat akumulasi (place of accumutaion) dalam perangkap reservoir dikontrol oleh faktor fisika dan kondisi fisika-kima dari sediment yang dilalui oleh minyak. Tekanan merupakan faktor utama yang mempengarusi proses tersebut. 2 jenis temperature yang dapat dibedakan pada bawah permukaan. Tekanan hidrostatis  yang merupakan gaya dari fluida yang berhubingan dengan pori yang terisi oleh air pada kedalaman tertentu, dan tekanan lithostatic yang merupakan penjumlahan dari berat batuan yang ditransmikian dari permukaan yang berhubungan dengan kedalaman ditambaha berat dari batuan dalam keadaan jenuh air. Terdapat 2 jenis migrasi yaitu migrasi primer dan migrasi sekunder.
Migrasi primer
Migrasi primer dari petroleum mengikuti gradient tekanan dari jarak pusat batuan induk yang telah matang kearah kontak dengan lapisan reservoarnya. Salah satu faktor yang memepengaruhi migrasi primer adalah kompasi sedimen yang berhubungan dengan pembebanan overburden. Kompaksi didapatkan melalui pengurangan spasi pori yang berhungan dengan keluarnya air didalam pori.
Mekanisme terjadinya ekspulsi (migrasi primer) adalah melalui metode porosity saturation. Metode ini menggambarkan bahwa selama proses pematangan, bahan organic diubah menjadi minyak. Pembentukkan minyak yang mengisi pori diakibatkan oleh penghancuran kerogen. Minyak tersebut menguasai resistensi kapiler dan mulai untuk bermigrasi. Terjadinya Overpressure yang disebabkan oleh konversi dari kerogen menjadi minyak dan gas dalam bentuk mikro dalam batuan menyebabkan minyak dan gas bermigrasi pada fase fluida. Faktor lain yang mengontrol migrasi primer adalah geometri sedimen pada batuan induk. Expulsion efficiency leih besar ketika batuan induk mempunyai ketebalan yang tipis dan hidrokarbon memiliki jarak yang lebih pendek untuk migrasi ke lapisan yang lebih permeable (carrier bed).
Migrasi sekunder
Setelah petroleum melewati batuan induk/kontak dengan lapisan reservoir, terjadi kondisi fisik yang beberda. Secara signifikan menjadi memiliki porositas yang lebih tinggi, permeabilitas dan ukuran pori yang membuat minyak dapat berpindah tempat. Perpindahan tersebut terjadi  pada fase minyak yang lain yang dikontrol oleh gaya buoyancy yang berhubungan dengan perbedaan densitas antara petroleum dan air. Semakin bersar volume antara minyak dan air semakin meningkat gaya buoyancynya. Faktor lain yang mempengaruhi adalah gaya hidrodinamis sedangkan gaya yang melawan kedua gaya tersebut adalah tekanan kapiler. Jika batuan memiliki lubang pori yang sangat sempit, perpindahan secara kapiler akan lebih dominan dibandingkan gaya buoyancy, sehingga proses entrapment terjadi. Migrasi petroleum pada lapisan reservoir batupasir dipengaruhi oleh gaya buoyancy dan oleh sebab itu akan mengarah langsung pada lapisan batuan yang cenderung miring. Perpindahan ini dikenal sebagai updip migration.

Oke cukup dulu, ntar ane update lagi lah ye.

Petroleum generation (Pembentukan Petroleum)

Salam. Sebelum bulan Juni ini kelar, ane mau coba posting lagi. sekarang udah mulai sibuk, jadi ini blog kayaknya mulai terbengkalai, tapi ane coba untuk tidak mentelantarkannya sehingga terbesit dipikiran ane untuk mengaktifkannya kembali (buset ngomong bae, kapan postingnye?).
Oke ane mulai.

Pada awalnye minyak dan gas dibentuk oleh degradasi thermal dari kerogen dalam lapisan batuan induk. Dengan penambahan  kedalaman (timbunan), temperature dalam batuan meningkat dan tentu saja temperature threshold (batas) dan secara kimia, bagian yang kurang stabil dari kerogen akan mulai berubah menjadi petroleum (jeng injeng). Mekanisme reaksi utama adalah hancurnya ikatan karbon (cracking), yang membutuhkan  energy termal yang melampaui tingkatan minimum (activation energy). Activation energy bervariasi berdasarkan posisi dan jenis dari ikatan karbon dalam struktur kerogen. Ikatan antara karbon dan heteroatom (N, S dan O) lebih kurang stabil dan mudah untuk hancur. Hasil pertama yang dibentuk oleh batuan induk selama penimbunan (burial) adalah N, S, dan O yang terikat bersama dengan karbon dioksida dan air. Pada tingkat temperature yang lebih tinggi, senyawa petroleum dibentuk dengan cracking oleh ikatan karbon dalam struktur kerogen dengan cara penghilangan bagian panjang dari rantai aliphatic dan struktur cincin yang jenuh (aromatic). Reaksi tersebut menghasilkan perubahan gradual dalam komposisi dasar kerogen terutama dalam peningkatan kandungan hydrogen. Proses dari kerogen yang bertransformasi seiring dengan meningkatnya temperature dinamakan maturasi, yang dibagi menjadi catagenesis dan mentagenesis.
Panas (atau dalam kamus anak kecil 'Nanas') merupakan faktor utama dalam kematangan dan reaksi pembentukan petroleum. Interval temperature dimana pembentukan minyak sedang terjadi dikenal sebagai “liquid window” atau “oil window”, yang cenderung mengarah pada interval sekitar 80-150oC.  parameter maturasi yang umum digunakan adalah vitrinite reflectance (Ro) dan biomarker maturity ratios. Partikel vitrinite merupakan komponen petunjuk yang tersebar luas dalam batuan induk yang dapat diidentifikasi dibawah mikroskop refleksi. Dengan bertambahnya maturasi, tingkat kekilapan dari partikel vitrinie untuk merefleksikan cahaya putih meningkat (gas lebih tinggi dibandingkan minyak).
Alasan mengapa perubahan gradual dari minyak ke kondensat hingga pembentukan gas terjadi adalah suplai dari struktur yang kaya hydrogen dalam kerogen meningkat. Batuan induk dengan tipe kerogen III, akan cenderung membentuk sedikit minyak dan dominan gas serta kondensat hanya setelah tingkat kematangan dari refleksi vitrinite sebesar 0.7% tercapai. Asal dari gas alam lebih komplek. Baik kandungan hidrokarbon maupun nonhidrokaron memiliki sumber yang bersifat multiple. Prisip dasar dari batuan induk hidrokarbon dengan kandungan gas adalah:
a) bakteri methanogenic; b) kerogen dengan semua tipe; c) batubara; d) cracking dari ikatan panjang hidrokarbon dalam reservoir dan batuan induk dengan kandungan minyak.
Parameter lain yang mempengaruhi maturiti  adalah specific biomarker ratio. Tekanan yang berhubungan dengan temperature merupakan faktor utama yang membuat perubahan dalam stereochemistry dari molekul biomarker secara individu. Susunan spasial dari kelompok methyl khusus (-CH3) atau ataom hydrogen sebagai bagian dari sistem berbentuk cincing atau ikatan persegi, berubah secara sistematis sebagai fungsi dari meningkatnya temperature. Selama pementukan petroleum, beberapa reaksi terjadi. Reaksi tersebut dikontrol oleh reaksi kinetic yang berbeda (activation energy, frequency factor, etc).
nah, sekian dulu untuk thread ini, ntar ane update lagi.

Kamis, 31 Mei 2012

MICP, Dissplacement pressure dan Capillary pressure

wah, udah lama juga ane gak nulis ini blog, (sok sibuk). Ane dapet tugas lagi, jadi mau share lagi tentang tugasnya. Kalo salah ya dari ane, kalo bener ya dari Sang Maha Pencipta. Oke kita mulai.
Tugas ane berhubungan dengan MICP. Apa itu MICP? Mi Indomie Campur Pangsit? Bukan bung, tapi Mercury Injection Capillary Pressure. Itu semacam metode laboraturium yang banyak gunanya lo. Bisa buat mengetahui banyak hal termasuk kepribadian mu (lho?, gak lah). 
Kalo bahasa ilmiahnya, MICP merupakan salah satu metode yang dilakukan dilaboraturium untuk mengetahui hubungan dari distribusi ukuran pori, analisis petrofisika dan untuk mengetahui volume pori maksimum yang berpotensi dari hidrokarbon. 
(ane dapet info dari alamat ini , tapi kalo mau baca bukunye, lebih sip dah. http://www.searchanddiscovery.com/documents/2009/40395klimentidis/images/fig04.htm).

Trus apa hubungannya dengan capillary pressure?
Capillary preassure merupakan gaya yang menggambarkan pergerakan fluida (hidrokarbon) melalui pori (http://www.spec2000.net/09-cappres.htm) atau waktu kita SD sering sebut gaya kapiler. kayaknya prinsipnya sama cuma beda penerapannya. (Udah beda kelas coy, masak SD mulu). Nah, MICP  kan merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui volume maksimum yang dapat dilalui oleh fluida (hidrokarbon) tersebut  atau dengan kata lain dapat mengetahui porositas dari batuan yang mengandung hidrokarbon tersebut. Biasanya, metode ini memberikan data yang cocok untuk kalibrasi pada suatu log porisitas dan akan lebih meyakinkan apabila analisis dapat dilakukan pada sampel yang segar (fresh) atau sampel cutting yang sebaik data core. 

trus apa lagi hubungannya dengan dissplecement pressure? (Mereka udah putus sekarang. statusnya complicated. hahahaha)
Dissplacement pressure merupakan gaya yang akan menentukan besarnya gaya buoyant minimum yang dibutuhkan untuk migrasi sekunder (http://bairdusa.com/Schowalter/mechan.htm#b11). MICP merupakan salah satu metode yang dilakukan dilaboraturium untuk mengetahui besar pori maksimum yang ada pada batuan terutama reservoir sehingga dapat mengetahui porositas dan permeabilitas batuan tersebut dengan cara memasukan senyawa mercury kedalam pori batuan. Pada percobaan laboraturium, semakin besar tekanan yang diberikan oleh senyawa mercury tersebut maka pori yang dibentuk akan semakin besar pula, sehingga displacement pressure juga akan meningkat. Hal ini akan menyebabkan migrasi sekunder dapat terjadi karena gaya buoyant yang menggerakkan fluida untuk melakukan migrasi sekunder menjadi maksimum. 

Nah, segitu dulu sharingnya, ntar kalo ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi, kalo masih ada umur yang panjang, bolehlah kita menulis lagi.


Rabu, 21 Maret 2012

SPARRY, MICRITIC dan BIO dalam LIMESTONE

Ane coba berbagi tentang beberapa pengertian tentang batuan karbonat, sebenernya ini tugas kuliah ane. Dasar pengertiannye dari buku. Ane gak mau nyebutin nama bukunye, tapi bukunye punya inisial GLOSARRY OF GEOLOGY. Yah, begitulah dia dipanggil. Dia buku yang baik, sering nolongin ane, ane lama-lama jadi demen ama dia. Mungkin suatu hari ane bakalan jadiin dia pacar ane (Lho???). Kembali ke benang merah, ane mulai.
1.    SPARRY ALLOCHEMICAL LIMESTONE merupakan batugamping yang mengandung unsur allochems lebih dari 50% dengan kandungan sparite lebih dari mikrit. Batuan jenis ini menunjukkan lingkungan pengendapan dengan energi pengendapan yang kuat dengan sortasi yang baik.
2.  MICRITIC ALLOCHEMICAL LIMESTONE merupakan batugamping yang mengandung unsur allochem lebih dari 50% dengan kandungan  mikrit lebih banyak dibandingkan dengan  sparite. Batuan jenis ini menunjukkan lingkungan pengendapan dengan energi pengendapan yang lemah, dengan sortasi yang lebih buruk dibandingkan dengan sparry allochemical rocks.
3.  INTRASPARITE merupakan batugamping yang mengandung sedikitnya 25% unsur interclast dengan kadungan  sparite lebih banyak dibandingkan dengan carbonat-mud matrix (mikrite)(Folk, 1959, p.14). umumnya batuan ini terendapkan pada lingkungan dengan energi pengendapan yang tinggi dimana sparrit biasanya bertindak sebagai pengisi pori (pore-filling cement).
4. INTRAMICRITE merupakan batugamping yang mengandung sedikitnya 25% unsur interclast dengan kandungan  mikrit (carbonat-mud matrix) lebih banyak dibandingkan dengan  sparite (Folk, 1959, p.14)
5. BIOSPARITE = batugamping yang mengandung kurang dari 25% unsur interclast dan kurang dari 25% ooliths, dengan perbandingan volume antara fossils dan fragmen fossil dengan pellets lebih dari 3 berbanding 1 dan kandungan  sparit lebih banyak dibandingkan dengan kandungan  mikrit (Folk, 1959, p.14). pada umumnya menunjukkan lingkungan pengendapan karbonat dengan energi pembentukan yang tinggi dengan sparit yang menjadi  pengisi pori. Berdasarkan klasifikasi Folk, pembagian lebih lanjut dari biosparite adalah unsorted biosparite, sorted biosparite, dan rounded biosparite. (bukan biooloogiii)
6. BIOMICRITE = batugamping yang mengandung kurang dari 25% unsur interclast dan kurang dari 25% unsur ooliths, dengan perbandingan volume dari fossil dan fragment fossil dengan pellets lebih dari 3 berbanding 1 dan kandungan mikrit lebih banyak dibandingkan dengan sparit. Pada umumnya menunjukkan lingkungan pengendapan dengan energi pengendapan yang lemah. Unsur organisme yang utama biasanya dispesifikasikan dengan menggunakan istilah seperti “criboid biomicite” atau brachiopod biomicrite”.
untuk kenampakannya kira-kira seperti inilah dia 
Ane minta maaf, untuk kenampakan spesifiknya ane belum cari. Tapi kalo masih ada kesempatan, ane coba update.

Jumat, 09 Maret 2012

CALICHE

Sekarang, ane mau coba berbagi tentang tugas ane yang berjudul caliche. Ane dapet dari sumber-sumber dan diubah dengan pemahaman ane. Caliche termasuk dalam batuan sedimen yang merupakan endapan keras dari kalsium karbonat (CaCO3). Kalsium karbonat tersemenkan bersamaan dengan material lain seperti gravel (keriril), pasir, lempung dan lanau (bukan buat bikin rumah ye). Caliche ditemukan pada lapisan tanah aridisol dan mollisol. Caliche terbentuk diseluruh dunia(tidak di akhirat), umumnya pada daerah dengan iklim arid dan semiarid (arid berarti kering), seperti daerah Australia barat di padangpasir Kalahari, high plains di amerika barat dan padangpasir sonorant. Caliche juga dikenal sebagai hardpan, calcrete, kankar (di india) atau duricrust. Caliche merupakan bahasa spanyol dengan kata aslinya berasal dari bahasa latin clax yang berarti gamping.

Caliche pada umumnya berwarna cerah tetapi dapat juga berwarna putih hingga merah muda terang hingga merah kecoklatan, berdasarkan kehadiran pengotornya (kalo diundang). Pada umumnya caliche ditemukan dekat permukaan tetapi dapat juga ditemukan pada endapan bawah permukaan yang lebih dalam. Ketebalan lapisan dapat bermacam-macam mulai dari beberapa inchi hingga beberapa kaki, dan lapisan yang berulang dapat terjadi pada lokasi yang sama.
Di utara chili dan peru, caliche juga mengarah ke endapan mineral yang mengandung garam nitrat. Di Meksiko dan kolombia Caliche juga dapat mengarah ke jenis endapan seperti lempung.  Material yang sama yang mengandung kalsium sulfat lebih banyak dibandingkan kalsium karbonat dinamakan gypscrust.

Bagaimana terbentuknya.??
Caliche (dibaca kul-lee-chee bukan kuli ye) umumnya terbentuk ketika mineral mengalami pencucian dari lapisan atas tanah (horizon A) dan terakumulasi di lapisan dibawahnya (horizon B), pada kedalaman sekitar 3 hingga 10 kaki dibawah permukaan. Caliche umumnya mengandung karbonat pada daerah semiarid, sedangkan pada daerah arid, mineral yang tidak dapat larut akan membentuk lapisan caliche setelah semua karbonat telah mengalami pencucian dari tanah. Kalsium karbonat yang diendapkan kemudian terakumulasi, pertama membentuk butiran, kemudian gumpalan kecil, kemudian menjadi lapisan dan akhirnya menumpuk dan menjadi tebal hingga menjadi lapisan yang solid. Setelah lapisan caliche terbentuk, lapisan kemudian secara bertahap menjadi lebih dalam, hingga sampai ke material induk yang berada dibawah lapisan tanah yang berada diatas.
Caliche dapat terbentuk dengan cara lain. Caliche dapat terbentuk ketika air naik melalui proses kapilarisasi. Pada daerah arid, airhujan akan masuk ke dalam tanah dengan cepat, kemudian ketika permukaan menjadi kering, air yang berada di bawah akan naik, membawa mineral-mineral hancuran dari lapisan dibawah. Perpindahan air membentuk caliche yang cenderung untuk tumbuh menipis  dan bercabang ketika dekat permukaan. Tanaman dapat berkontribusi dalam pembentukkan caliche. Akar tanaman membawa air melalui proses tranpirasi, kalsium karbonat akan tertahan, dan ketika proses presipitasi akan membentuk caliche. Caliche juga dapat terbentuk pada singkapan dari batuan yang bersifat porous atau dalam rekahan batuan di mana air terperangkap dan mengalami evaporasi. Umumnya, pengendapan caliche merupakan proses yang lama, tetapi jika terdapat pengotor di daerah tersebut, dapat menyebabkan akumulasi yang cukup cepat. Nah, begitulah cerita tentang caliche, jika ada masukan ane sangat berkesan dan terharu. Terimakasih.

Minggu, 12 Februari 2012

Penambangan Batubara


Sekarang ane mau coba sharing tentang penambangan batubara, secara umum serta proses-proses yang terlibat di dalamnya. Semua akan dibahas secara tajam, setajam siluet (lho??). Disini, ane Cuma coba sharing hal-hal yang menyangkut teori (Indonesia banget), tapi kita ambil positignya, bahwa praktek tanpa teori seakan sayur tanpa garam. mulai. Inti dari penambangan batubara adalah mengambil batubara dari bumi (ya iyalah, namanya juga penambangan batubara, kalo penambangan batu kali yang diambil ya batu kerikil). Batubara sangat berguna sebagai salah satu komponen dari pembangkit energy, dan sejak tahun 1880 an digunakan secara luas untuk tenaga dalam pembangkit listrik. Industri baja dan sement juga menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk proses ekstraksi besi dari bijih besi dan untuk produksi semen.
Metode Ekstraksi
Metode yang paling ekonomis untuk ekstraksi batubara dari lapisan batubara tergantung pada kedalaman dan kualitas dari lapisan batubara, serta faktor geologi dan lingkungan. Proses penambangan batubara dibedakan dari apakah mereka mengekstrak dari permukaan atau bawah permukaan sehingga membutuhkan proses “washing” dalam penambangan batubara. “washing” disini maksudnya bukan mencuci ya gan, secara harfiah artinya memang itu, tapi maksudnya disini adalah pembersihan lapisan atas yang pada bagian bawahnya terdapat lapisan batubara. Kegiatan teknikal dan kelayakan ekonomi akan dievaluasi berdasarkan pada hal-hal berikut ini: kondisi geologi regional, karakteristik lapisan overburden, keberlanjutan lapisan batubara, ketebalan, struktur, kualitas, kedalaman, kekuatan dari material diatasnya dan dibawah lapisan yang menjadi roof dan floor, topografi, iklim, kepemilikan tanah (siapa tahu tanahnya hibah), kondisi air bawah permukaan, ketersediaan tenaga kerja dan material yang dibutuhkan, permintaan pembeli batubara, dll.
Nah, untuk penambangan permukaan dan penambangan bawah permukaan merupakan dua metode penambangan batubara yang dasar. Pemilihan dari metode yang akan digunakan tergantung dari kedalaman timbunan, densitas dari lapisan overburden dan ketebalan dari lapisan batubara. Lapisan batubara (seams) yang dekat permukaan rata-rata memiliki kedalaman kurang dari 180 ft (50 m). Nah yang dalemnya, biasanya mempunyai kedalaman sekitar 180 hingga 300 ft ( 50 sampai 100 m).
Modern Surface Mining
Jenis penambangan ini dibagi menjadi beberapa jenis penambangan seperti: Area Mining, contour mining, Mountaintop removal mining, Room and pillar mining, Underground Mining. Untuk penjelasannya ane lanjutin di posting berikutnye ye. Sekarang ane mau coba jabarin yang underground mining dulu.
Underground mining dilakukan di bawah permukaan (ya iyalah, underground, kalo underwear beda lagi, ups). Ada lima prinsip dari metode underground mining
1.      Longwall mining
2.      Continous mining
3.      Blast mining
4.      Shortwall mining
5.      Retreat mining
Nah, yang ini juga penjelasannya ane coba share di postingan selanjutnye ye.

Sabtu, 04 Februari 2012

Bauksit (Bauxite)

Sedikit tentang Bauksit, ane mau coba sharing tentang perihal yang satu ini. Katenye, Bauxite itu bukan mineral (apa iya?), tetapi merupakan salah satu produk dari pelapukan batuan yang mengandung beberapa mineral pokok. Menurut literatur, bauksit tersebut mengandung beberapa komposisi "hydrated aluminium oxides" atau aluminium oksida hidroksida. yang pada dasarnya berupa mineral gibbsite (Al(OH)3), boehmite (AlO(OH)), dan diaspore (AlO(OH)). Pengotor (sampah donk ye?) pada bauksit dapat berupa mineral lempung, hematite, magnetite, goethit, siderit, dan kuarsa dan bauksit ini merupakan salah satu endapan yang mengandung sedikit mineral rutile, anatase dan zircon. Untuk sifat fisik atau propertiesnye ane coba jelasin, begini bunyinya:



Group                          : Hydroxides
Crystal system             : Amorphous mixture
Composition                : mixture of hydrous aluminium oxides
Colour                         : white, yellowish, red, reddish-brown
Form/Habit                  : Amorphous
Hardness                     : 1 – 3 (lemah banget ye)
Cleavage                     : None (tidak ada bukan pasanganye abang, emang pemilihan abang none?)
Luster                          : Earthy
Fracture                       : Uneven
Streak                          : Usually white
Specific Gravity          : 2.3 – 2.7
Transparency               : opaque

Aluminium Ore
Katanya, tidak semua bauksit cocok untuk ditambang (lho? kenapa?? kenapa semua itu terjadi?). Bijih harus memiliki kandungan aluminium-oxide sama dengan atau bisa lebih dari 30 persen untuk menjadi bahan ekonomis (ooooo,....). Sebagai rata-rata atau perkiraanya, 4 ton dari bijih terdapat 1 ton aluminiumnye. Nah, untuk tambang bauksitnye, 90 persentnye itu dilebur (smelted) menjadi aluminium, sisanye dibuat alat-alat atau benda-benda seperti abrasives dan refractory.

Segini dulu ye, ntar ane upgrade lagi infonye, mudah-mudahan bermanfaat, bagi ane khususnye, dan pembaca yang budiman semuanya,.