slide 1 title

Pertambangan timah daerah Pemali, dengan tipe greisen dan batuan pembawa granit. .

slide 2 title

Strukutur daerah pemali yang terdapat pada batuan filit. merupakan aerole pada daerah tersebut.

slide 3 title

Sayatan tipis (thin section) granite pembawa mineral greisen penghasil bijih timah (sn) pada daerah pemali berumur trias-yura. mineral yang terlihat kuarsa, muskovit.

slide 4 title

Sayatan tipis (thin section) granite pembawa mineral greisen penghsil bijih timah (sn) pada lokasi yang berbeda, menunjukan mineral kuarsa.

slide 5 title

Struktur pada daerah pemali. urat kaoline yang memotong urang tourmaline (?).

Tampilkan postingan dengan label Migas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Migas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2013

Simbol Litologi

hahahaha, udah hampir setahun gak postingan, dari tahun 2012 sampe 2013. sekarang mau share gambar aja tentang struktur sedimen yang ada dari model gambar sama namanya, hahahaha, moga gak repost, cuma mau nerusin ilmu


Senin, 05 November 2012

Tentang Sequence Stratigrafi

Ane mau nge-share tentang sequence stratigrafi, ane ambil dari bukunya Mas Sam Bogg, Jr. Moga bermanfaat.

Sequence stratigrafi didasarkan pada pemikiran bahwa suksesi (rangkaian) sedimen dapat dibagi menjadi unit (sequence) yang dibatasi oleh ketidakselarasan (unconformity) yang terbentuk selama perubahan siklus muka air laut. Sequence dapat dibagi menjadi unit yang lebih kecil yang secara genetic terhubung dengan pembentukan dari tahapan yang berbeda siklus muka air laut pada daerah tertentu. Kumpulan 3 dimensi dari lithofasies dengan keterdapatan batas sequence mengacu sebagai sistem pengendapan (depositional system). Depositional system dibangun oleh unit statigradi yang lebih kecil: system tract dan parasequence ( yang disusun oleh rangkaian parasequence). Sequence stratigrafi akan menjadi acuan dalam chronostratigrafi yang akan menunjukan pembentukan batuan yang berhubungan dengan accommodation space.
Accommodation space merupakan ruang yang tersedia pada suatu waktu dimana sedimen dapat terakumulasi (Jervey,1988). Pada dasarnya, merupakan ruang antara permukaan equilibrium (muka air laut) yang memisahkan batas erosional (bagian atas) dengan batas pengendapan (bagian bawah) dimana sedimen dapat terakumulasi. Accommodation space pada lingkungan laut dikontrol oleh eustasy (penurunan dan kenaikan muka air laut( dan tektonik (subsidence/uplift). Jumlah dari accomodasi dan kecepatan suplai sedien dikontrol oleh kedalam air dan juga transgresi dan regresi (emery and Meyers, 1996). Jika sedimen bertambah ketika accommodation space masih konstan atau suplai sedimen lebih besar dibandingkan dengan tingkat kenaikan relative muka air laut, kedalam air akan turun (fasies pada daerah regresi). Jika suplai sedimen lebih kecil dari tingkat kenaikan muka air laut, kedalam air akan meningkat (faseis pada daerah transgresi). Jika supai sedimen yang sangat banyak mengisi suatu ruang akomodasi hingga ke batas tertinggi, penurunan muka air laut secara global (eustasy) atau pengangkatan dari lantai samudra yang dapat menyebabkan sedimen tersebut tererosi (tersingkap).

Bagian penting dari sequence stratigrafi
1. Parasequence dan rangkaian parasequence
Parasequence merupakan fasies terkecil dari sekuen pengendapan dan memiliki ketebalan berkisar antara 10 hingga 100 m. parasequence merupakan rangkaian kecil dari lapisan atau rangkaian lapisan yang dibatasi oleh flooding surface, yang merupakan permukaan yang memisahkan lapisan muda dari lapisan yang lebih tua. Flooding surface pada umumnya terbentuk di lingkungan transisi dimana tingkat kenaikan ruang akomodasi lebih kecil dibandingkan dengan suplai sedimen. Pada kondisi tersebut, sedimen yang masuk ke laut akan mengisi daerah pantai terlebih dahulu, kemudian akan berpindah kearah laut (prograding) hinga kedaerah distal. Hasilnya akan shallowing-upward dan pada umumnya coarsening-upward. Jika tahapan ini diikuti oleh kenaikan ruang akomodasi, transgresi akan mengontrol kondisi ini.
Kemudian, penurunan ruang akomodasi yang diperlihatkan oleh situasi eustasi (penurunan muka air laut) atau terjadi peningkatan suplai sedimen dapat menunjukkan pengendapan dari parasequence yang baru. Penumpukan secara vertical dari parasequence menunjukkan variasi dari perubahan relative muka air laut yang memebntuk rangkaian parasequence. Pada kondisi ini, setiap perubahan parasequence akan menuju kea rah laut membentuk progradational parasequence set. Pada kondisi yang berbeda dimana muka air laut relative naik dan turun, parasequence mungkin akan menuju kea rah daratan dan membentuk retrogradational parasequence set atau secara vertical membentuk aggradational parasequence set (Coe and Chruch, 2003).
2. system tract
System tract merupakan subdivisi dari sistem pengendapan. 4 jenis dari system tract yang dikontrol oleh muka air laut adalah
Highstand system tract (sedimen diendapkan selama muka air laut tinggi). Sistem ini terbentuk selama fase terakhir dari kenaikan muka air laut, dan terhenti pada kondisi terebut atau selama fase awal dari penurunan muka air laut. Sistem ini terbentuk pada kondisi dimana kondisi progradasi menjadi aggradasi. High system tract ditentukan oleh ketidakselarasan (unconformity yang dihasilkan oleh penerunan muka air laut pada kondisi eustasi setelahnya).
Falling-stage system tract sebagai awal dari lowstand syste tracts yang dibentuk dari penurunan muka air laut dari posisi highstand. Penurunan muka air laut berhubungan, baik terhadap tingakt penurunan muka air laut yang melebihi kecepatan subsidence dari tektonik atau tingkat kenaikan muka air laut lebih kecil dibandingkan tingkat pengangkatan tektonik yang membawa ke kondisi yang dikenal sebagai force regression. Selama force regression, ruang akomodasi berkurang sejauh garis pantai yang berpindah kea rah laut (prograde) dan pengendapan juga berpindah ke posisi yang lebih rendah. Hasilnya, endapan coastal tidak diendapkan pada posisi awalnya tetapi akan melewati zona pengendapan dan membentuk permukaan ketidakselarasan (unconformity surface). Kemudian Erosi sedimen pada daerah pantai oleh fluvial akan menyebabkan penggerusan melewati daerah pantai dan diendapkan lagi kearah mendekati laut. Pengendapan pada falling-stage system tract meliputi endapan laut dangkal, endapan offshore-marine, dan endapan kipas laut (submarine-fan sediments).

Lowstand system tracts, mulai terbentuk setelah muka air laut relative turun hingga batas minimunnya dan mulai untuk naik sehingga menghasilkan ruang akomodasi yang kecil. Endapan terdiri dari rangkaian parasewuence dari progradational hingga aggradaional yang terdiri dari alluvial dan endapan pantai, endapan laut dangkal, , endapan offshore-marine, dan endapan kipas laut (submarine-fan sediments).

Kenaikan muka air laut yang menerus menghasilkan kondisi dimana tingkat ruang akoodasi lebih besar dibandingkan dengan supali sedimen yang dihasilkan pada kondisi transgresi. Daerah pengendapan dari perubahan pengendapan kearah daratan menghasilkan parasequence retrogradasional. Transgressive surface akan ditandai oleh endapan laut yang lebihbanyak dibandinkan dengan endapan nonmarine. Sedimen diendapkan pada kondisi tersebut menghasilkan transgressive system tract. Transgressive system tract akan terdiri dari alluvial dan endapan pantai, endapan laut dangkal, , endapan offshore-marine, tetapi tidak termasuk endapan kipas laut (submarine-fan sediments). Ketika muka air laut mencapai titik maksimum, tingkat sedimentasi akan melebihi kecepatan kenaikan muka air laut dan aggradasi menjadi  progradasi lebih dominan akan menghasilkan kondisi highstand system tract yang baru.

Rabu, 04 Juli 2012

Akumulasi dan trap petroleum

Sekarang jatahnya akumulasi dan trap petroleum. Ini adalah salah satu komponen penentu bisa tidaknya petroleum itu dieksploitasi. Ibarat kata, akumulasi itu kayak duit receh, trap itu kayak dompet. makin banyak duit receh dalam dompet makin tebel dah itu dompet, jadi buat "ngoreknya" gampang, tinggal comot.(Maksa bener perumpaannya. hahahaha).
ini kelanjutan dari postingan sebelumnye yang bisa dilihat di sini 

Undip migration dari petroleum sepanjang carrier bed yang miring terus terjadi selama tidak ada pengaruh dari keadaan struktur dimana reservoar dapat menjadi sebuah perangkap, dan Petroleum yang bermigrasi akan berhenti dan terperangkap pada suatu perangkap(trap) kemudian tejadi akumulasi dalam perangkap tesebut  Perangkap merupakan tempat dibawah permukaan dimana petroleum terakumulasi.. Element dari trap berupa geometri, batuan reservoar dan seal rock. Perangkap dibedakan menjadi 4 macam, yaitu structural yang dikontrol oleh deformasi dari lapisan, stratigafi yang dikontrol oleh perubahan “kondisi alami” dari batuan itu sendiri, kombinasi yang dipengaruhi baik oleh stratigrafi maupun struktur dan hidrodinamik yang berhubungan dengan aliran air yang melewati reservoar dan terperangkap bersama dengan hidrokarbon tersebut.

Kamis, 28 Juni 2012

Migrasi petroleum

Nah, sekarang ane mau coba berbagi tentang migrasi. Bukan migrasi penduduk ye, tapi migrasi hidrokarbon, mudah-mudahan ane gak salah menafsirkan. (Amiin Ya Allah).
Oke ane mulai ye.

Awalnya pembentukan petroleum oleh degradasi termal dari kerogen didasarkan melalui proses kimia yang terutama dikontrol oleh temperature. Migrasi petroleum dari ‘place of origin’ dalam batuan induk ke tempat akumulasi (place of accumutaion) dalam perangkap reservoir dikontrol oleh faktor fisika dan kondisi fisika-kima dari sediment yang dilalui oleh minyak. Tekanan merupakan faktor utama yang mempengarusi proses tersebut. 2 jenis temperature yang dapat dibedakan pada bawah permukaan. Tekanan hidrostatis  yang merupakan gaya dari fluida yang berhubingan dengan pori yang terisi oleh air pada kedalaman tertentu, dan tekanan lithostatic yang merupakan penjumlahan dari berat batuan yang ditransmikian dari permukaan yang berhubungan dengan kedalaman ditambaha berat dari batuan dalam keadaan jenuh air. Terdapat 2 jenis migrasi yaitu migrasi primer dan migrasi sekunder.
Migrasi primer
Migrasi primer dari petroleum mengikuti gradient tekanan dari jarak pusat batuan induk yang telah matang kearah kontak dengan lapisan reservoarnya. Salah satu faktor yang memepengaruhi migrasi primer adalah kompasi sedimen yang berhubungan dengan pembebanan overburden. Kompaksi didapatkan melalui pengurangan spasi pori yang berhungan dengan keluarnya air didalam pori.
Mekanisme terjadinya ekspulsi (migrasi primer) adalah melalui metode porosity saturation. Metode ini menggambarkan bahwa selama proses pematangan, bahan organic diubah menjadi minyak. Pembentukkan minyak yang mengisi pori diakibatkan oleh penghancuran kerogen. Minyak tersebut menguasai resistensi kapiler dan mulai untuk bermigrasi. Terjadinya Overpressure yang disebabkan oleh konversi dari kerogen menjadi minyak dan gas dalam bentuk mikro dalam batuan menyebabkan minyak dan gas bermigrasi pada fase fluida. Faktor lain yang mengontrol migrasi primer adalah geometri sedimen pada batuan induk. Expulsion efficiency leih besar ketika batuan induk mempunyai ketebalan yang tipis dan hidrokarbon memiliki jarak yang lebih pendek untuk migrasi ke lapisan yang lebih permeable (carrier bed).
Migrasi sekunder
Setelah petroleum melewati batuan induk/kontak dengan lapisan reservoir, terjadi kondisi fisik yang beberda. Secara signifikan menjadi memiliki porositas yang lebih tinggi, permeabilitas dan ukuran pori yang membuat minyak dapat berpindah tempat. Perpindahan tersebut terjadi  pada fase minyak yang lain yang dikontrol oleh gaya buoyancy yang berhubungan dengan perbedaan densitas antara petroleum dan air. Semakin bersar volume antara minyak dan air semakin meningkat gaya buoyancynya. Faktor lain yang mempengaruhi adalah gaya hidrodinamis sedangkan gaya yang melawan kedua gaya tersebut adalah tekanan kapiler. Jika batuan memiliki lubang pori yang sangat sempit, perpindahan secara kapiler akan lebih dominan dibandingkan gaya buoyancy, sehingga proses entrapment terjadi. Migrasi petroleum pada lapisan reservoir batupasir dipengaruhi oleh gaya buoyancy dan oleh sebab itu akan mengarah langsung pada lapisan batuan yang cenderung miring. Perpindahan ini dikenal sebagai updip migration.

Oke cukup dulu, ntar ane update lagi lah ye.

Petroleum generation (Pembentukan Petroleum)

Salam. Sebelum bulan Juni ini kelar, ane mau coba posting lagi. sekarang udah mulai sibuk, jadi ini blog kayaknya mulai terbengkalai, tapi ane coba untuk tidak mentelantarkannya sehingga terbesit dipikiran ane untuk mengaktifkannya kembali (buset ngomong bae, kapan postingnye?).
Oke ane mulai.

Pada awalnye minyak dan gas dibentuk oleh degradasi thermal dari kerogen dalam lapisan batuan induk. Dengan penambahan  kedalaman (timbunan), temperature dalam batuan meningkat dan tentu saja temperature threshold (batas) dan secara kimia, bagian yang kurang stabil dari kerogen akan mulai berubah menjadi petroleum (jeng injeng). Mekanisme reaksi utama adalah hancurnya ikatan karbon (cracking), yang membutuhkan  energy termal yang melampaui tingkatan minimum (activation energy). Activation energy bervariasi berdasarkan posisi dan jenis dari ikatan karbon dalam struktur kerogen. Ikatan antara karbon dan heteroatom (N, S dan O) lebih kurang stabil dan mudah untuk hancur. Hasil pertama yang dibentuk oleh batuan induk selama penimbunan (burial) adalah N, S, dan O yang terikat bersama dengan karbon dioksida dan air. Pada tingkat temperature yang lebih tinggi, senyawa petroleum dibentuk dengan cracking oleh ikatan karbon dalam struktur kerogen dengan cara penghilangan bagian panjang dari rantai aliphatic dan struktur cincin yang jenuh (aromatic). Reaksi tersebut menghasilkan perubahan gradual dalam komposisi dasar kerogen terutama dalam peningkatan kandungan hydrogen. Proses dari kerogen yang bertransformasi seiring dengan meningkatnya temperature dinamakan maturasi, yang dibagi menjadi catagenesis dan mentagenesis.
Panas (atau dalam kamus anak kecil 'Nanas') merupakan faktor utama dalam kematangan dan reaksi pembentukan petroleum. Interval temperature dimana pembentukan minyak sedang terjadi dikenal sebagai “liquid window” atau “oil window”, yang cenderung mengarah pada interval sekitar 80-150oC.  parameter maturasi yang umum digunakan adalah vitrinite reflectance (Ro) dan biomarker maturity ratios. Partikel vitrinite merupakan komponen petunjuk yang tersebar luas dalam batuan induk yang dapat diidentifikasi dibawah mikroskop refleksi. Dengan bertambahnya maturasi, tingkat kekilapan dari partikel vitrinie untuk merefleksikan cahaya putih meningkat (gas lebih tinggi dibandingkan minyak).
Alasan mengapa perubahan gradual dari minyak ke kondensat hingga pembentukan gas terjadi adalah suplai dari struktur yang kaya hydrogen dalam kerogen meningkat. Batuan induk dengan tipe kerogen III, akan cenderung membentuk sedikit minyak dan dominan gas serta kondensat hanya setelah tingkat kematangan dari refleksi vitrinite sebesar 0.7% tercapai. Asal dari gas alam lebih komplek. Baik kandungan hidrokarbon maupun nonhidrokaron memiliki sumber yang bersifat multiple. Prisip dasar dari batuan induk hidrokarbon dengan kandungan gas adalah:
a) bakteri methanogenic; b) kerogen dengan semua tipe; c) batubara; d) cracking dari ikatan panjang hidrokarbon dalam reservoir dan batuan induk dengan kandungan minyak.
Parameter lain yang mempengaruhi maturiti  adalah specific biomarker ratio. Tekanan yang berhubungan dengan temperature merupakan faktor utama yang membuat perubahan dalam stereochemistry dari molekul biomarker secara individu. Susunan spasial dari kelompok methyl khusus (-CH3) atau ataom hydrogen sebagai bagian dari sistem berbentuk cincing atau ikatan persegi, berubah secara sistematis sebagai fungsi dari meningkatnya temperature. Selama pementukan petroleum, beberapa reaksi terjadi. Reaksi tersebut dikontrol oleh reaksi kinetic yang berbeda (activation energy, frequency factor, etc).
nah, sekian dulu untuk thread ini, ntar ane update lagi.

Kamis, 31 Mei 2012

MICP, Dissplacement pressure dan Capillary pressure

wah, udah lama juga ane gak nulis ini blog, (sok sibuk). Ane dapet tugas lagi, jadi mau share lagi tentang tugasnya. Kalo salah ya dari ane, kalo bener ya dari Sang Maha Pencipta. Oke kita mulai.
Tugas ane berhubungan dengan MICP. Apa itu MICP? Mi Indomie Campur Pangsit? Bukan bung, tapi Mercury Injection Capillary Pressure. Itu semacam metode laboraturium yang banyak gunanya lo. Bisa buat mengetahui banyak hal termasuk kepribadian mu (lho?, gak lah). 
Kalo bahasa ilmiahnya, MICP merupakan salah satu metode yang dilakukan dilaboraturium untuk mengetahui hubungan dari distribusi ukuran pori, analisis petrofisika dan untuk mengetahui volume pori maksimum yang berpotensi dari hidrokarbon. 
(ane dapet info dari alamat ini , tapi kalo mau baca bukunye, lebih sip dah. http://www.searchanddiscovery.com/documents/2009/40395klimentidis/images/fig04.htm).

Trus apa hubungannya dengan capillary pressure?
Capillary preassure merupakan gaya yang menggambarkan pergerakan fluida (hidrokarbon) melalui pori (http://www.spec2000.net/09-cappres.htm) atau waktu kita SD sering sebut gaya kapiler. kayaknya prinsipnya sama cuma beda penerapannya. (Udah beda kelas coy, masak SD mulu). Nah, MICP  kan merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui volume maksimum yang dapat dilalui oleh fluida (hidrokarbon) tersebut  atau dengan kata lain dapat mengetahui porositas dari batuan yang mengandung hidrokarbon tersebut. Biasanya, metode ini memberikan data yang cocok untuk kalibrasi pada suatu log porisitas dan akan lebih meyakinkan apabila analisis dapat dilakukan pada sampel yang segar (fresh) atau sampel cutting yang sebaik data core. 

trus apa lagi hubungannya dengan dissplecement pressure? (Mereka udah putus sekarang. statusnya complicated. hahahaha)
Dissplacement pressure merupakan gaya yang akan menentukan besarnya gaya buoyant minimum yang dibutuhkan untuk migrasi sekunder (http://bairdusa.com/Schowalter/mechan.htm#b11). MICP merupakan salah satu metode yang dilakukan dilaboraturium untuk mengetahui besar pori maksimum yang ada pada batuan terutama reservoir sehingga dapat mengetahui porositas dan permeabilitas batuan tersebut dengan cara memasukan senyawa mercury kedalam pori batuan. Pada percobaan laboraturium, semakin besar tekanan yang diberikan oleh senyawa mercury tersebut maka pori yang dibentuk akan semakin besar pula, sehingga displacement pressure juga akan meningkat. Hal ini akan menyebabkan migrasi sekunder dapat terjadi karena gaya buoyant yang menggerakkan fluida untuk melakukan migrasi sekunder menjadi maksimum. 

Nah, segitu dulu sharingnya, ntar kalo ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi, kalo masih ada umur yang panjang, bolehlah kita menulis lagi.