slide 1 title

Pertambangan timah daerah Pemali, dengan tipe greisen dan batuan pembawa granit. .

slide 2 title

Strukutur daerah pemali yang terdapat pada batuan filit. merupakan aerole pada daerah tersebut.

slide 3 title

Sayatan tipis (thin section) granite pembawa mineral greisen penghasil bijih timah (sn) pada daerah pemali berumur trias-yura. mineral yang terlihat kuarsa, muskovit.

slide 4 title

Sayatan tipis (thin section) granite pembawa mineral greisen penghsil bijih timah (sn) pada lokasi yang berbeda, menunjukan mineral kuarsa.

slide 5 title

Struktur pada daerah pemali. urat kaoline yang memotong urang tourmaline (?).

Tampilkan postingan dengan label Mineralogi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mineralogi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2014

Bridgmanite: mineral dengan jumlah yang melimpah akhirnya diberi nama


Pada umumnya, mineral di dunia ini ada banyak jumlahnya, setahu ane juga yang udah diberi nama lebih dari 3000 (mungkin kudu pikir-pikir lagi kalo ada yang punya niat buat ngapalin). Dan mungkin yang paling familiar di telinga kita ya mineral kuarsa, karena dia yang paling melimpah dan paling tahan terhadap proses pelapukan dan erosi. Selain itu, mineral ini hampir ditemukan di semua jenis batuan (beku, sedimen, metamorf –red).  Tapi ternyata masih banyak mineral di bumi ini yang memiliki persentase lebih besar dari si kuarsa tersebut.  Salah satunya mineral yang bakalan ane bahas sedikit disini.

Ditahun 2014 ini, para peneliti sudah banyak melakukan penelitian terhadap dunia sains, terutama di bidang geologi. Penelitian terbaru dan informasinya juga masih anget yaitu pemberian nama dari sebuah mineral yang notabene kata para ilmuwan terutama geologist sangat melimpah di bumi. Dan lagi-lagi peneliti dari amerika lah yang memberi nama tersebut. BRIDGMANITE diklaim merupakan salah satu mineral dengan jumlah yang sangat melimpah di bumi, sebelum dikenal dengan nama bridgmanite, para ilmuwan memberikan nama perovskite pada material tersebut. Nama bridgmante akhirnya diberikan oleh para tim geologis asal amerika pada jurnal meraka SCIENCE setelah melakukan beberapa penelitian yang ternyata menggunakan sampel mineral dari meteorit gan.(lah kok gitu?).

(sumber gambar: mindat.org)


Proses pemberian namanya ini sendiri gak segampang membalikan kedua belah tangan gan. Perlu ada proses, dan bagian yang sulitnya, sebelum nama di sematkan ke sebuah mineral, minimal harus ada sample yang bisa dideskripsikan. (ya yang dibumi gampang, lah yang diluar angkasa gimana ceritanya coba).  Awalnya, para ilmuan dibidang kebumian telah mengetahui bahwa sekitar 70 persen penyusun mantel bumi bagian bawah merupakan mineral dengan densitas yang tinggi dan komposisi magnesium iron silicate yang mana kurang lebih 38-60 persen dari total volume bumi.  Tapi masalahnya, mineral ini gak ada dihampir semua planet lainnya sehingga samplenya pun jadi sulit buat diteliti.

Dan masalah lainnya adalah belum memungkinkannya untuk kita dalam waktu dekat ini mengebor sampai ke mantel bagian bawah (lower mantle) dengan kedalaman hingga 670km, sehingga kita gak tau bagaimana kondisi dan situasi di dalam bumi. Dan selama ini kita hanya bisa memprediksi komposisi batuan penyusun bumi dari seimik atau getaran yang dibuat oleh bumi itu (bisa melalui gempa bumi) sendiri yang diukur berdasarkan cepat rambat aliran gelombangnya yang dihubungkan dengan densitas batuan.

Nah untuk mensiasati masalah tersebut, para peneliti kemudian mencoba menganalisis meteorite yang jatuh di bumi pada waktu lampau, yang dianggap sama material penyusunnya dengan material penyusun bumi. Material luar angkasa yang dijadiin sample itu merupakan salah satu chondrite yang pernah jatuh di daerah Queensland, Australia (ya kurang lebih deket lah dari rumah ane) tahun 1879. Dan nama sukarelawan (meteorit) tersebut adalah meteorit tenham. Penelitian pada sampel tersebut dilakukan dengan menggunakan metode x-ray yang dikombinasikan dengan mikroskopelektron.

Pemberian nama Bridgmanite itu sendiri diambil dari salah satu nama ilmuan asal negri paman Sam (amerika), Percy Bridgman dimana om adalah “the father of high-pressure experiments” dan udah dapet piala nobel tahun 1946 dibidang fisika. Nah, komposisi mineralnya itu sendiri adalah (Mg,Fe)SiO3 dengan sistem kristal ortorombik.



Rabu, 10 Desember 2014

Proses pembentukan DIAMOND dan hubungannya dengan Batubara (COAL)

Semua pasti tau dong apa itu diamond atau intan. Apalagi yang jualan batumulia. Beh, jangan ditanya. Diamond merupakan mineral terkeras dalam skala mohs yang dibuat oleh om Friedrich Mohs tahun 1812 .Tapi apakah setiap orang tau bagaimanakah diamond terbentuk? 

Trus kira-kira Apakah ada hubungannya antara diamond dengan batubara (coal)? Apakah batubara (coal) merupakan source (sumber) dari diamond? Pertanyaan ini mungkin muncul karena didasarkan pada komposisi yang terkandung pada 2 “material” tersebut yang hampir sama, yaitu unsur karbon (nah lo). Eits, tapi belum tentu batubara merupakan  sumber dari diamond loh. Ane disini mau coba  bahas soal hubungan keduanya (yang pasti baik-baik saja).
Tapi kalo dilihat secara fisik sih, mungkin kayak beautiful and the beast kali. LOL.




Banyak orang percaya kalo diamond itu terbentuk dari batubara yang mengalami proses metamorphisme, artinya “dia” (si batubara) terkena tekanan dan temperature yang tinggi sehingga merubah bentuk dan struktur dari system Kristal yang terkandung di dalam doi. Tapi ada beberapa hal yang membuat pernyataan ini gak sepenuhnya bener gan. Batubara sangat jarang ditemukan atau berperan dalam pembentukan diamond. Faktanya, kebanyakan diamond yang telah didating (diukur umurnya dengan metode tertentu) memiliki umur yang lebih tua dari tanaman pertama yang pernah ada di bumi tercinta, yang mana si doi ( tanaman) tersebut merupakan sumber dari pembentukan batubara. Nah lo? Berarti si diamond itu terbentuk terlebih dahulu dibandingkan si tanaman yang merupakan source (sumber) dari pembentukan batubara. Disini mulai kelihatan kan silsilah keluarga mereka. Complicated memang, tapi itu faktanya. Miris memang, jadi biasakan hal itu nak karena dunia memang kejam. (Miminnya mabok).

Masalah yang lain yang membuat pernyataan ini (diamond terbentuk dari coal -red) semakin lemah (nah lo, yang satu belum kelar, ada lagi) adalah lapisan batubara yang terbentuk itu umumnya dan harusnya (kalo menurut teori horizontalitas) itu mendatar (bagaimanapun jua si doi termasuk batuan sedimen jadi kudunya harus datar waktu terbentuk), sedangkan batuan asal (source rock) dari diamond berbentuk vertical pipes filled yang berhubungan dengan batuan beku.

Sebenarnya ada 4 proses yang mungkin dan bisa menjadi patokan bagaimana terbentuknya diamond yang pernah ditemukan di bumi ini gan. Salah satu proses tersebut malah ada yang mendekati keakuratan 100% sebagai proses pembentukan diamond itu. Tentunya ini berbeda di tiap daerah yang ada dibumi ya gan. Sisanya (3 proses lainnya) mungkin terjadi dengan presentase yang kecil. Oke ane coba bahas proses-proses tersebut gan.

1. diamond terbentuk dari mantel bumi (earth’s mantle)
Yang pertama adalah terbentuk dari mantel bumi (mungkin diluar angkasa hujan kali jadi bumi harus pake mantel). Para geologist percaya (termasuk ane tapi ane gak seratus persen gan, takut musyrik) diamond yang ada di muka bumi ini terbentuk dari mantel bumi yang di”delivered” ke permukaan melalui proses erupsi gunung api. Proses tersebut yang kemudian menghasilkan “kimberlite” (yang ada di Afrika selatan) dan pipa lamproite. Nah, setelah tersingkap di dekat dan di permukaan bumi, batuan yang mengandung diamond mengalami pelapukan dan erosi yang kemudian hasil proses pelapukan dan erosi tersebut diendapkan di batuan sedimen yang ada di sungai atau pinggir pantai gan.

Pembentukan diamond dari proses ini membutuhkan temperature dan tekanan yang super tinggi yang mana kondisi tersebut bisa terjadi pada zona batas mantel bumi dengan kerak bumi ( ya sekitar  150 km kalo jalan kaki) dibawah permukan gan dimana termperatur pada daerah itu mencapai 1050 derajat celcius gan (lumayan buat ngerebus telor). Tapi daerah tersebut berbeda untuk tiap lokasi di bawah permukaan bumi lo ya gan. Nah setelah mengalami proses ditempa sama tekanan tinggi dan dimasak dengan temperature yang tinggi, diamond yang telah terbentuk itu kemudian naik melalui proses letusan gunung api tadi gan. Tapi letusan gunung api jenis ini sangat jarang ditemukan sekarang gan, mungkin letusan yang super besar  dan belum pernah terjadi lagi hingga sekarang.

Nah disini bisa dilihat, apakah batubara terlibat dalam proses tersebut? I don’t think so gan. Tidak ada satupun material batubara yang ikut dalam proses pembentukan diamond tersebut. Batubara merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari tanaman yang diendapkan di permukaan bumi, dan material tanaman tersebut sangat jarang ditemukan terendapkan pada kedalam lebih dari 3 kilometer (sedangkan proses pembentukan diamond tipe ini membutuhkan kedalam 150 km). Dan sangat gak mungkin kalo batubara tersebut masuk nyelinap ke mantel bumi. Yang ada malah hangus kena temperature yang super tinggi itu. Jadi sumber carbon untuk diamond yang ada para proses pembentukan diamond jenis in,i dimungkinkan dari unsure carbon yang “terjebak” di dalam bumi. Oke next.

2. diamond terbentuk pada zona subduksi
Zona subduksi merupakan suatu zona penunjaman yang terjadi ketika terjadi tabrakan antar 2 lempeng bumi dimana salah satu lempeng (biasanya dan umumnya adalah lempeng samudra) “nyungsep” atau masuk ke bawah lempeng benua kayak gambar dibawah ini gan (gambar). Dimungkinkan gak banyak diamond jenis ini yang telah ditemukan dalam batuan. Diamond pada proses subduksi ini terbentuk pada kedalaman kurang lebih 80 km dibawah permukaan dengan temperatur kurang lebih 200 derajat celcius. (Pada sebuah penelitian di daerah brazil ditemukan diamond dengan inklusi yang berasal dari kerak samudra)
Nah sekarang pertanyaannya, apakah batubara kembali terlibat? Jawabannya mungkin. Batubara mungkin saja terlibat dan merupakan source dari diamond tersebut, atau malah bukan batubara melainkan batuan lain. Yah, bagaimanapun juga lempeng  samudra yang lebih memungkinkan untuk berperan sebagai “sang penyusup” daripada lempeng benua, juga memiliki kandungan batuan karbonat kayak batugamping, marmer atau dolomit. Jadi sekali lagi, kemungkinan batubara sebagai source bagi diamond kecil. Oke next gan.

3. pembentukan diamond pada lokasi bekas benturan (terutama tubrukan oleh meterorit atau asteroid)
Yang ketiga ini mungkin lebih kecil persentasenya dibandingkan dengan 2 proses diatas, karena proses terjadinya mungkin jarang terjadi dibumi. (kecual ada THOR yang mau mampir kesini bawa palunya). Sepanjang sejarah pembentukan bumi, bumi sendiri telah beberapa kali “dihajar” sama yang namanya asteroid atau meteroit. Dari ukuran sedang sampe super gede. Nah, ketika si asteroid ini menabrak bumi, terbentuklah tekanan dan temperatur yang sangat besar, buktinya sampe terbentuk kawah yang dihasilkan sama tabrakan ini dengan ukuran yang beragam gan bahkan sampe 20 km. Letusan dari hasil tabrakan itu bahkan sama besarnya dengan letusan yang dihasilkan jutaan senjata nuklir dan temperaturnya lebih panas dari pemukaan matahari.
Temperatur dan tekanan yang super tinggi yang dihasilkan oleh tabrakan ini hampir sama dengan temperatur dan tekanan pada saat pembentukan diamond di bumi ini. Hal ini sudah dikonvirmasi dan diteliti gan serta didukung oleh penelitian yang dilakukan rekan-rekan kita pada beberapa daerah yang terkena tabrakan asteroid. Alhasil, pada daerah tersebut terdapat sub-milimeter diamond kayak di arizona dan rusia.
Nah pertanyaannya lagi, apakah ada unsur batubaranya? Mungkin gan. (mungkin mulu dah). Ya mungkin aja kalo daerah yang ditabraknya itu ada batubaranya atau setidaknya ada batuan yang mengandung unsur carbon sehingga proses pembentukan diamond tersebut bisa terjadi. Mungkin kaya batugamping, marmer atau dolomit. Oke next gan. The last one.

4. pembentukan di luar angkasa
Nah kalo yang ini jangan terlalu banyak berharap bisa ketemu gan( ya kali diluar angkasa. Kalo diluar kota masih mungkin). Penelitian NASA terbaru telah mendeteksi adanya nanodiamond pada beberapa meteorit yang ada diluar angkasa. Mungkin sekitar 3 persen unsur karbon ada pada meteorit tersebut dan ukurannya terlalu kecil untuk dijadikan batumulia gan. Dan pertanyaannya lagi, apakah batubara terlibat? Yang pasti gak bakalan ada yang mau tanem rumput (yang bakalan jadi source batubara) diluar angkasa gan.
Nah untuk lebih mudahnya ane ada gambar yang ane ambil dari situs geology.com

sumber gambar: geology.com


Kesimpulannya
Jadi kesimpulannya batubara mungkin bisa menjadi source dari diamond pada beberapa proses pembentukan diamond tapi secara umum hal itu sangat kecil persentasenya. Walaupun sama-sama memiliki unsur karbon sebagai unsur pembentuk, bukan berarti proses pembentukannya sama kan gan? Oke gan, sekian review dari ane. Saran dan commentnya ane tunggu.


Source: berbagai sumber

Kamis, 27 Maret 2014

Kuarsa, Cristobalite, dan Tridmite

Kali ini ane mau coba bahas tentang kuarsa yang ternyata kuarsa punya sodara dengan watak (komposisi) yang sama yaitu SiO2. Ane coba bahas bertahap ye, biar gak bingungin.Tapi mineral-mineral tersebut terbentuk pada kondisi yang berbeda jadi kalo kita bisa temuin dan identifikasi mineral tersebut, kita bisa tau gimana kondisi awal pembentukan dari mineral pada khususnya dan batuan pada umumnya. Refrensi terbesar untuk kasus kali ini ane ambil dari bukunya om A. Betekhtin yaitu “A Course of Mineralogy” yang diterbitin sama Moscow PEACE PUBLISHERS dan sedikit dari bukunya om Bonewitz yang judulnya “ Rocks and Minerals”.

Sebelumnya kita bahas dulu, apa sih kuarsa itu? Kok ada sodara dengan komposisi yang sama tapi berbeda nama. Sebenernya kuarsa itu sendiri punya beberapa jenis, kayak smoky quartz, rose quartz, milky quartz, amethyst. Perbedaan dari jenis-jenis kuarsa tersebut ada pada pengotornya kayak adanya kehadiran gas yang terperangkap di dalam kristal sehingga menghasilkan milky quartz atau kehadiran mineral titanium sehingga menghasilkan rose quartz atau amethys yang disebabkan oleh pengotor besi. Tapi apapun pengotornya (minumnya baygon. Lho?) penamaan yang diberikan masih mengacu pada kuarsa dengan temperatur pembentukan dan tekanan yang relatif sama. Baik secara sistem kristal, kekerasan, belahan, pecahan maupun masa jenis. Tapi tahukah agan-agan bahwa mineral kuarsa itu sendiri tidak serta merta terbentuk dan kemudian menjadi kuarsa. Mungkin mineral lain juga mengalami, tapi disini ane mau coba bahas tentang mineral kuarsa aja karena memang mineral ini sangat umum dijumpai di hampir semua tipe batuan.
Ada tiga jenis modifikasi dari mineral SiO2 pada umumnya yaitu kuarsa, tridmymite dan cristobalite, dimana mineral-mineral tersebut terbentuk pada temperatur yang berbeda. Urut-urutan pembentukan mineral SiO2 tersebut kayak gini

α-Kuarsa(<-573o->)β-Kuarsa(<-870o->)β-tridmite(<-1470o->)β-cristobalite(<-1713o->)melebur
dan pada temperatur rendah terjadi reaksi pembentukan kayak gini
α-tridmite(<-130o->)β-tridmite dan α-cristobalite(<-180o-270o->)β-cristobalite


oke, sampe segitu dulu pembahasan tentang kuarsa. Next time ane coba posting lagi.

Rabu, 25 September 2013

Review mineral pada skala Mohs (1822)


Sekarang ane mau review tentang mineral-mineral yang ada di skala mohs. Skala Mohs itu digunakan untuk menentukan atau sebagai parameter kekerasan mineral yang ada di bumi. Menurut Doddy (1987), kekerasan mineral diartikan sebagai daya tahan mineral terhadap goresan gan.  Nah, kekerasan itu sendiri ditentuin sama susunan dalam dari atom-atom penyusun mineral tersebut. Mohs (1822) telah mengadakan suatu penentuan mineral yang nantinya dan sampai sekarang telah menjadi parameter dalam menentukan kekerasan mineral gan. Oke, kita review satu-satu mineralnya dari yang paling lunak sampai yang paling keras (kalo gak percaya digigit aja gan)

1.       Talk


Kelompok : silika-phyllosilika
Sistem kristal : tricilinc atau monoclinic
Komposisi mineral : Mg3Si4O10(OH)2
Warna : putih, tidak berwarna, hijau, kuning atau coklat
Bentuk (habit) : foliated dan fibrous  masses
Kekerasan : 1
Belahan : sempurna
Pecahan : uneven hingga subconchoidal
Kilap : pearly hingga greasy
Cerat : putih
Specific gravity : 2,8
Transparansi : translucent

2.       Gipsum

   
 Kelompok  : sulfat
Sistem kristal : monoklinik
Komposisi mineral : CaSO4.2H2O
Warna : tidak berwarna, putih, coklat cerah, kuning, merah muda
Bentuk (habit) : prismatic hingga tabular
Kekerasan : 2
Belahan : sempurna
Pecahan : splintery
Kilap : subvitreous hingga pearly
Cerat : putih
Specific gravity : 2,3
Transparansi : transparan hingga translucent
Reflection index : 1,52 – 1,53

3.       Kalsit




Kelompok : karbonat
Sistem kristal : hexagonal atau trigonal
Komposisi mineral : CaCO3
Warna : tidak berwarna, putih
Bentuk (habit) : scalenohedral, rhombohedral
Kekerasan : 3
Belahan : sempurna
Pecahan : subconchoidal, brittle
Kilap : vitreous
cerat : putih
Specific gravity : 2,7
Transparansi : transparan
Reflection index : 1,48 – 1,66

4.       Fluorit



Kelompok : Halides
Sistem kristal : cubic
Komposisi mineral : CaF2
Warna : terbentuk dalam banyak warna
Bentuk (habit) : cubic, octahedral
Kekerasan : 4
Belahan : sempurna
Pecahan : flat, conchoidal
Kilap : vitreous
cerat : putih
Specific gravity : 3,0 – 3,3
Transparansi : transparan
Reflection index : 1,43

5.       Apatit


Kelompok : phospate
Sistem kristal : hexagonal atau monoclinic
Komposisi mineral : Ca5(PO4)3(F,OH,Cl)
Warna : hijau, biru, violet, ungu, tidak berwarna, kuning atau rose
Bentuk (habit) : prismatik panjang atau pendek, tabular
Kekerasan : 5
Belahan : indistinct, variable
Pecahan : choncoidal hingga uneven
Kilap : vitreous, waxy
cerat : putih
Specific gravity : 3,1 – 3,2
Transparansi : transparent hingga translucent
Reflection index : 1,63 – 1,64

6.       Ortoklas

Kelompok : silika/tectosilika
Sistem kristal : monoclinic
Komposisi mineral : KALSi3O8
Warna : tidak berwarna, putih, cream, kining, merah muda, coklat hingga merah
Bentuk (habit) : prismatik pendek
Kekerasan : 6 – 6,5
Belahan : sempurna
Pecahan : subconchoidal hnga uneven, brittle
Kilap : vitreous
cerat : putih
Specific gravity : 2,5 – 2,6
Transparansi : transparant hingga translucent
Reflection index : 1,51 – 1,54

7.       Kuarsa

Kelompok : silika / tektosilika
Sistem kristal : hexagonal  trigonal
Komposisi mineral : SiO2
Warna : tidak berwarna
Bentuk (habit) : prismatic
Kekerasan : 7
Belahan : -
Pecahan : conchoidal
Kilap : vitreous
cerat : putih
Specific gravity : 2,7
Transparansi :transparan
Reflection index : 1,54 – 1,55

8.       Topas

Kelompok : silika / nesosilika
Sistem kristal : orthorombhic
Komposisi mineral : Al2SiO4(F,OH)2
Warna : tidak berwarna, biru, kuning, merah muda, coklat, hijau
Bentuk (habit) : prismatic
Kekerasan : 8
Belahan : perfect basal
Pecahan : subconchoidal hingga uneven
Kilap : vitreous
Cerat : tidak berwarna
Specific gravity : 3,4 – 3,6
Transparansi : transparant hngga trasnlucent
Reflection index : 1,62 – 1,63

9.       Korondum

Kelompok : oksida
Sistem kristal : hexagonal - trigonal
Komposisi mineral : Al2O3
Warna : terbentuk dalam banyak warna
Bentuk (habit) : pyramidal, prismatic barrel
Kekerasan : 9
Belahan : -
Pecahan : conchoidal hingga uneven
Kilap : adamatine hingga vitreous
Cerat : tidak berwarna
Specific gravity : 4,0 – 4,1
Transparansi : transparent
Reflection index : 1,76 – 1,77

10.   Intan

Kelompok : native element
Sistem kristal : cubic
Komposisi mineral : C
Warna : putih hingga hitam, tidak berwarna, kuning, merah muda, merah, biru, coklat
Bentuk (habit) : octahedral, cubic
Kekerasan : 10
Belahan : perfect octahedral
Pecahan : conchoidal
Kilap : adamantine
Cerat : akan menggores papan cerat (mungkin sangking kuatnya gan, hahaha)
Specific gravity : 3,4 – 3,5
Transparansi : transparant hingga opaque
Reflection index : 2,42

Nah, segitu dulu review tentang mineral dalam skala Mohs (1822), komen dari agan/wati yang baek ane tunggu.





Senin, 09 September 2013

Deret bowen (Bowen Reaction Series)


Sekarang ane mau coba share ilmu tentang deret bowen. Ini merupakan chart yang paling dasar (sedasar sumur) yang harus para akademis geologi tau. Sebagai panduan dalam penentuan jenis mineral-mineral yang ada pada saat pembentukan batuan untuk pertama kali. Dalam kasus ini batuan beku, karena mineral-mineral itu berasal dari proses pendinginan magma (walaupun bisa juga terbentuk dari proses sekundari, artinya terbentuk setelah mineral lain terbentuk tanpa harus mengalami peleburan. Sebenernya, komposisi dari magma itu tergantung dari beberapa faktor gan salah satunya kompoisisi batuan yang dileburkan pada saat pembentukan magmanya, sehingga dapur magma yang dihasilkan akan mempunyai komposisi mineral yang sedikit berbeda satu dengan yang lainnya, walaupun pada dasarnya, komposisi setiap dapur magma adalah sama yaitu basaltis. Kenapa? (kenapa hayo). Karena lapisan kerak bumi yang melebur pada dasarnya adalah sama, yaitu kerak samudra yang notabene tersususn oleh material dengan komposisi basaltis.
Deret bowen (atau bahasa jawanya bowen reaction series) itu dibuat oleh Om Norman L Bowen yang mencoba membuat penelitian tentang kumpulan mineral yang terbentuk pada saat pendinginan magama. Penelitiannya dimulai pada awal 1900.
Oke kita mulai. Ane tunjukin dulu chartnya. Ni die barangnnya.

(gambarnya ane browsing gan, sorry ane lupa alamatnya)


Gambar diatas itu menjelaskan bahwa mineral pertama yang terbentuk pada dasarnya cenderung mengandung silika rendah dan kandungan besi (Fe) yang tinggi dibandingkan dengan mineral yang terbentuk pada akhir proses dengan temperatur yang lebih rendah. Seri reaksi menerus (continuous) pada mineral plagioklas diartikan sebagai suatu seri yang menunjukkan terbentuknya mineral plagioklas yang tidak tergantikan dengan jenis mineral lain. Yang berubah pada seri reaksi menerus adalah adanya komposisi unsur Ca yang terganti menjadi Na sehingga mineralnya menjadi terubah, namun masih tetap dalam jenis plagioklas. Reaksi berubahnya komposisi plagioklas ini dinamakan derat solid solution yang artinya kristalisasi plagioklas Ca – Plagioklas Na, jika terjadi kesetimbangan akan berjalan menerus. Plagioklas ca sering disebut sebagai calcic plagioklas, sedangkan Na disebut sodic plagioklas/Alkali plagioklas.
Sedangkan seri tidak menerus (discontinuos) terdri dari mineral-mineral ferromagnesian (Fe-Mg). Dimama setiap penurunan temperatur dan tekanan, bukan hanya komposisi unsur-unsur tersebut yang terubahkan, tapi juga mineralnya berubah menjadi mineral baru dengan komposisi yang berbeda dengan mineral sebelumnya.
Refrensi lain yang ane baca, ada yang membagi seri reaksi bowen menjadi 2 golongan gan, yaitu (golongan orang-orang berimana dan yang tidak, Lho?) golongan mineral hitam atau mafik mineral dan golongan mineral putih atau felsik mineral (batuan dan mineral,1987). Yang berarti mineral hitam itu berarti mineral dengan komposisi unsur besi dan magnesium yang dominan sedangkan untuk golongan mineral putih, komposisi unsur besi dan magnesium menjadi berkurang sehingga warna mineral-mineral tersebut menjadi cerah tidak hitam lagi (jadi bukan karena pake pemutih ya gan mineralnya).

Mineral-mineral sebelah kiri (seri discontinuous) bertemu dengan mineral-mineral sebelah kanan (seri continuous) menjadi mineral muskovit. 

Jumat, 22 Maret 2013

T.I.M.A.H

sekarang ane mau bahas sedikit lah tentang timah, sepak terjang, seluk beluk dan kenapa doi bisa jadi terkenal. Kita peringkat 2 lo setelah china sebagai produsen timah. (#kibar bendera merah putih). hahahahaha. oke, let's start. (Note: refrensi terbesar ane dari buku bahan galian industri).Seblum mulai kita baca doa dan kita lihat kenampakannya dulu.

ini kenampakan timah hitam (sumber gambar adnorthya.blogspot.com)
ini kenampakan timah putih (sumber gambarhttp://infoguwe.blogspot.com/2012/03/analisis-faktor-faktor-permintaan.html)


oke, timah, terutama timah putih itu berasal dari mineral yang namanya kasiterit (rumus kimianya SnO2, gak pake ples atau mines, bagi atau kale). Nih timah punya sifat yang umum ni, kayak tahan terhadap udara lembab, terus kekerasannya rendah jadi bisa dimasukin ke logam lunak, terus daya tahan terhadap korosinya tinggi, gak beracun dengan berat jenis rendah dan titik cair rendah sekitar 232 derajat celcius dan tahanan jenis sekitar  0,15 ohm mm2/m. Di indonesia, penghasil timah terbesar itu di daerah sumatra, yaitu kakak beradik Kepulauan Bangka Belitung (itu tu yang laskar pelangi noh). mineral kasiterit sebagai mineral pembawa timah itu termasuk resisten nih gan terhadap pengangkutan air (transportasilah istilahnya) sehingga memungkinkan untuk terkumpul sebagai endapan placer (atau sedimenter). Di endapan placer ini, kasiterit itu berasosiasi dengan kuarsa, mika, monazit, dan sedikit turmalin. Nah, di Bangka dan Belitung batuan tertua terdiri dari batuan endapan yang berumur permokarbon hingga trias, nah batuan ntu diterbos sama granit biotit yang diperkirakan sebagai penyebab terbentuknya endapan timah sekaran ini. 
Batuan di Bangka dan Belitung umumnya terlipat kuat dengan jurus umum berarah timur-barat dan kemiringannya yang curam, sedangakan di Pemali (itu salah satu daerah yang ada di Kabupaten Bangka) jurus berubah arah menjadi barat laut-tenggara bro. Nah di pemali ntu, endapan timah didapetin sebagai jejaring (stockwork) dan greisen dalam granit dan urat turmalin kasiterit yang membujur sejajar dengan sentuhan atau didekatnya (nah lo bingung kan?). Intinya dia di berupa urat dimana urat turmalinnya itu saling bertemu atau cuma PDKT doang, hahahaha (CMIIW gan). Nah, mineralisasi timah di pulau ntu disebabkan oleh intrusi granit yang berumur minimal trias (baca geology Indonesia, bahwa pulau Bangka dan Belitung itu terbentuk pada umur Trias). Biasanya hasil samping penambangan timah berupa kaolin dan pasir kuarsa.
Penambangan di kedua pulau ini dimulai hampir 200 tahun lo gan dan masih aktif sampe sekarang (standing applause), tapi yang nambang didaerah itu gak cuma perusahaan resmi, tapi juga banyak penambangan liar atau biasa disebut TI (Tambang Inkonvensional lo bukan yang TI lainnya) dan pemilik KP terbesar yaitu PT.TIMAH Tbk (yeeeee, backing sound anak-anak yang lagi dapet balon).
Timah banyak jenis dan pemanfaatannya, nih sebut saja timah tipe metal (bukan tipe musik lo, rock , pop, dangdut gitu) nah terdiri dari campuran timah, stibium dan timbal, biasanya yang bentuknya lembaran tipis itu untuk bungkus makanan agan-agan sekalian, dak kalo dicampur sama timah hitam biasanya untuk timah pateri atau alat-alat dapur.
segitu dulu gan infonya, kalo ada salah kata, ane minta maaf. nanti ane publish tentang geologi daerah bangka belitung hingga sampe dia bisa ngasilin timah. see u next publish.

Sabtu, 04 Februari 2012

Bauksit (Bauxite)

Sedikit tentang Bauksit, ane mau coba sharing tentang perihal yang satu ini. Katenye, Bauxite itu bukan mineral (apa iya?), tetapi merupakan salah satu produk dari pelapukan batuan yang mengandung beberapa mineral pokok. Menurut literatur, bauksit tersebut mengandung beberapa komposisi "hydrated aluminium oxides" atau aluminium oksida hidroksida. yang pada dasarnya berupa mineral gibbsite (Al(OH)3), boehmite (AlO(OH)), dan diaspore (AlO(OH)). Pengotor (sampah donk ye?) pada bauksit dapat berupa mineral lempung, hematite, magnetite, goethit, siderit, dan kuarsa dan bauksit ini merupakan salah satu endapan yang mengandung sedikit mineral rutile, anatase dan zircon. Untuk sifat fisik atau propertiesnye ane coba jelasin, begini bunyinya:



Group                          : Hydroxides
Crystal system             : Amorphous mixture
Composition                : mixture of hydrous aluminium oxides
Colour                         : white, yellowish, red, reddish-brown
Form/Habit                  : Amorphous
Hardness                     : 1 – 3 (lemah banget ye)
Cleavage                     : None (tidak ada bukan pasanganye abang, emang pemilihan abang none?)
Luster                          : Earthy
Fracture                       : Uneven
Streak                          : Usually white
Specific Gravity          : 2.3 – 2.7
Transparency               : opaque

Aluminium Ore
Katanya, tidak semua bauksit cocok untuk ditambang (lho? kenapa?? kenapa semua itu terjadi?). Bijih harus memiliki kandungan aluminium-oxide sama dengan atau bisa lebih dari 30 persen untuk menjadi bahan ekonomis (ooooo,....). Sebagai rata-rata atau perkiraanya, 4 ton dari bijih terdapat 1 ton aluminiumnye. Nah, untuk tambang bauksitnye, 90 persentnye itu dilebur (smelted) menjadi aluminium, sisanye dibuat alat-alat atau benda-benda seperti abrasives dan refractory.

Segini dulu ye, ntar ane upgrade lagi infonye, mudah-mudahan bermanfaat, bagi ane khususnye, dan pembaca yang budiman semuanya,.



Rabu, 01 Februari 2012

Emas (Karakteristik dan Keindahannya)

Sekarang ane mau sharing tentang emas. Ada banyak emas di dunia ini, apalagi di Indonesia, seperti eMas parkir, eMas Bakso, dll (lho???). Tapi kita gak bakalan bahas tentang emas-emas tadi, kita bahas emas dalam lingkup geologi. Pernah dengar kalimat ini?

"what do you not drive human heart into, cursed craving for gold" virgil., Aenied.

Tau gak gan, Mineral yang satu ini merupakan logam yang berharga. Warnanye dan kecerahannya sangat "attractive". Emas telah digunakan oleh manusia kurang lebih 6000 tahun yang lalu (ane jadi bingung emang tahun segitu, kira-kira siapa yang beli ye?).  Properties atau sifat fisik dari mineral yang satu ini seperti berikut (ehem):
Group                          : Native elements
Crystal system             : Cubic
Composition                : Au
Color                           : Golden-yellow
Form/Habit                  : octahedral, dodecahedral, dendritic
Hardness                     : 2 1/2 - 3

Cleavage                      : None
Fracture                       : Hackly
Streak                          : Golden-yellow
Specific Gravity           : 19.3
Transparency               : Opaque

ini, pelakunye , emas (gold), beautiful right?

Emas jarang ditemukan dalam bentuk oktahedral dan dodecahedral yang sempurna, tapi lebih umum ditemukan dalam bentuk denditic dan berupa butir. Panjang kristalnye kira-kira 25 cm (1in) yang ditemuin di California, dan beratnye ada yang sampe lebih dari 90 kg (buset, kalo dijual itu dapat duit segudang) yang ditemuin di Australia. Di bumi, terutama di bagian kerak, kelimpahannye diperkirain cuma 0,005 ppm (part per million). Sedikit banget ye, makanya buat para kaum hawa, jangan suka beli emas yang banyak trus gak dipake, nyarinye susah tau, trus cuma sedikit lagi. Trus, mineral ini sulit banget menjalani silaturahmi sama mineral lain (maksudnye ikatan antar ion dengan mineral lain sangat sulit), jadi hanya sedikit atau mungkin jarang terdapat gold-bearing mineral (mineral pembawa emas), tapi, yang kebetulan bisa dan beruntung sebagai gold-bearing ada kok, yaitu mineral tellurium dan selenium (ciyee).


The Color of Gold
Biasanya, warna alami dari emas adalah golden-yellow, tapi kadang-kadang emas tersebut dicampur agar warnanya lebih menarik. Seperti, kalo dicampur sama tembaga (copper) entar jadinya warna merah atau merah muda, kalo sama besi (fe) jadi berubah sedikir biru, kalo ditambah perak, platinum, nikel, atau zinc  warnanya jadi pucat atau putih. Sama halnya dengan kekerasan mineral ini. Agar kekerasannya meningkat, emas biasanya dicampur dengan logam lain ( untuk skala perhiasan). Nah, untuk kemurnian dari logam emas yang udah dicampur biasanya diwakilkan dengan yang namanya "karat" (bukan berarti karat yang besi lo, ntar dikira karat, ngapain beli emas yang bener-bener berkarat, cari aje besi loakan). Angka pada karat tersebut mewakili kemurnian dari emas, jadi andaikata itu emas punya nilai 24 karat, berarti mengandung 100 % emas murni, nah kalo cuma 9 karat berarti tinggal 9 per 24 dikali 100 persen dah.

Gold In Industry
Bukan cuma tuk perhiasan, emas ini juga bisa digunain dalam industri, seperti electrical conductivity. Selain itu, emas juga digunain di satelit lo gan, gunanya untuk mengontrol suhu di satelit ntu tadi .Jauh-jauh ke luar angkasa cuma jadi remot AC?, tapi keren ye.

Satelit GPS

Nah, segitu dulu ye, untuk info lainnye tentang emas, ane mau cari dulu. Atau kalo buru-buru, bisa langsung tanya ke penjual emas di toko emas terdekat.